Infeksi
dengue atau lebih dikenal dengan Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah
merupakan penyakit yang menimbulkan masalah kesehatan masyarakat dengan
angka kesakitan (morbiditas) yang cukup tinggi, menyebabkan kejadian
luar biasa (KLB), dan kematian (mortalitas) terutama pada anak-anak.
Penyebaran infeksi dengue juga telah dilaporkan hampir dari semua negara
yang terletak di sekitar garis khatulistiwa, baik Negara tropis maupun
sub tropis. World Health Organization (WHO) mencanangkan strategi global
dengan sasaran pada tahun 2020 semua negara endemis dengue dapat
menurunkan angka mortalitas 50%, menurunkan angka morbiditas 25% (dari
data dasar tahun 2010), dan pada tahun 2015 telah ditentukan true burden of dengue infection.
Indonesia
termasuk Negara endemis DBD yang telah berhasil menurunkan angka
kematian DBD dari 48,6% pada tahun 1968 menjadi 0,9% pada tahun 2013.
Perlu diingat juga bahwa pola umur kejadian DBD sejak tahun 2000 telah
bergeser pada kelompok umur yang lebih tua (dewasa), namun angka
kematian lebih banyak dijumpai pada anak-anak. Beberapa faktor penyebab
meningkatnya angka kesakitan akibat DBD, yaitu akibat urbanisasi,
perumahan yang padat, banyak rumah kosong yang terlantar, peningkatan
transportasi juga akan meningkatkan tempat perindukan dan penyebaran
nyamuk.
Upaya
mengurangi kepadatan nyamuk telah dilakukan sejak lama dengan cara 3M
(menguras,menutup,menimbun), partisipasi masyarakat oleh kader desa
melalui program COMBI (communication for behavioral impact),
kerjasama lintas sektoral, dan masih banyak lagi program yang dilakukan
oleh Kemenkes RI. Yang menjadi pokok permasalahan adalah program-program
pemerintah tersebut harus dikerjakan secara terus menerus dan
berkesinambungan serta tidak boleh lengah. Selama ini yang terjadi
masyarakat sering lalai apabila kasus tidak terjadi.
Kematian
akibat DBD pada umumnya disebabkan karena syok yang berkepanjangan atau
syok berulang dan perdarahan yang seringkali disertai dengan
ensefalopati. Diperkirakan 21.000 orang di seluruh dunia meninggal
karena infeksi dengue tersebut. Lalu, bagaimana kita dapat menurunkan
kesakitan dan kematian pada tahun 2020 dengan strategi yang selama ini
dilakukan?
Bagaimana Peran Vaksin Dengue?
Sejarah panjang penelitian tentang vaksin dengue Chimeric yellow fever dengue-tetravalent dengue vaccine (CYD-TDV)
tampaknya mulai memasuki babak menggembirakan. Vaksin Dengue CYD-TDV
bakal dirilis tahun 2017. Prof. Dr.dr. Sri Rezeki Hadinegoro, SpA(K)
salah seorang tim peneliti vaksin dengue memaparkan bahwa vaksin dengue
ini bisa menekan jumlah kasus DBD sampai 60% pada kelompok usia anak 9
tahun. Serta dapat mengurangi jumlah penderita Dengue Syok Sindrom (DSS)
berat stadium 3 hingga 70%. Disamping itu juga mengurangi angka
perawatan hingga 70%, yang artinya dapat mengurangi beban biaya
pemerintah secara ekonomi.
Penelitian
tersebut dilakukan selama 15 tahun sejak tahun 2011 oleh lima Negara,
yaitu Vietnam, Malaysia, Thailand, Singapura dan Indonesia. Vaksin ini
tidak untuk anak dibawah 9 tahun, namun untuk anak usia 9 – 18 tahun.
Saat ini masih menunggu proses surat perijinan dari Badan POM dan masih
di uji bahaya serta efektivitasnya.
Harapan
ke depan adalah bahwa pada tahun 2017 vaksin tersebut dapat diberikan
layaknya imunisasi. Akan tetapi, pencegahan seperti 3M, partisipasi
masyarakat oleh kader desa melalui program COMBI (communication for behavioral impact),
kerjasama lintas sektoral yang sudah diprogramkan pemerintah melalui
Kemenkes RI harus tetap jalan dan terintegrasi karena fungsi utama
vaksin ini hanya untuk mengurangi angka kesakitan dengue.
Pencegahan
lebih baik daripada pengobatan. Imunisasi merupakan program yang
efektif untuk mencegah penyakit DBD baik tingkat ringan maupun berat.
Vaksin CYD-TDV diindikasikan pada umur 9 tahun atau lebih. Dapat
disimpulkan bahwa Indonesia harus berupaya mencapai strategi global
dalam penanggulangan infeksi dengue pada tahun 2020 dan vaksin CYD-TDV
dapat dimasukkan dalam salah satu komponen upaya pencegahan infeksi
dengue di masa yang akan datang.
Sumber : 1. Hadinegoro, Sri Rezeki. Dengue Vaccine: does it need for Indonesia?. Jurnal Sari Pediatri. Vol.17.hal:7-12. Oktober 2015. ISSN 0854-7823. 2. Warta PIT-7 IKA. Vaksin Dengue Dirilis 2017.Hal: 1, Edisi 4. Rabu 4 November 2015.
Sumber : http://www.uinsby.ac.id/kolom/id/175/urgensi-vaksin-dengue-untuk-pencegahan-dbd-di-indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar