Kamis, 16 Juni 2016

Revolusi Mental Puasa Ramadhan

Opini Jawa Pos
Oleh Ali Murtadlo*

PRESIDEN Jokowi sesungguhnya tidak perlu terlalu pusing mencari model pelatihan untuk revolusi mental yang hingga kini belum jelas benar juntrungannya itu. Allah telah menyediakannya: puasa Ramadan sebulan penuh.
Betapa tidak, puasa melatih kita tidak hanya untuk menahan lapar dan minum, tapi juga menahan marah, bergunjing, dan mengendalikan hati agar tidak berburuk sangka, mengontrol mata agar tidak jelalatan, menggembleng disiplin, persistensi, dan kesabaran yang dahsyat.
Perilaku korup, misalnya, bisa diberantas dengan puasa. Mereka yang berpuasa berlatih selama sebulan untuk tidak berlaku curang.
Minum di kamar, contohnya. Kalau mau, orang lain pasti tidak tahu karena kita melakukannya di kamar sendirian. Tapi, mengapa hal demikian tidak dilakukan? Karena tahu ada Tuhan yang menyaksikan. Itulah perilaku ihsan. Perilaku takwa, the ultimate goal dari puasa: la'allakum tattaquun, agar kalian bertakwa.
Tapi, dan tapi inilah yang justru masih terjadi dan sering jadi cibiran. Rajin puasa, rajin salat, haji berkali-kali, tapi maksiat jalan terus. STMJ namanya: salat tekun, maksiat jalan terus. Pasti salatnya tidak khusyuk, puasanya tidak beres, hajinya sekadar menambah gelar di depan nama.
Dalam banyak hal, perilaku ibadah kita memang belum tembus pada derajat substansi. Baru pokoke salat, pokoke poso, pokoke haji. Sekadar membatalkan kewajiban. Dan, rasanya, sudah tenang, sudah senang.
Seolah-olah tiket surga sudah di tangan. Padahal, sesungguhnya masih jauh sekali dari standar Allah. Apa standarnya? Harus mencapai derajat substansi. Salat, misalnya, harus memenuhi dua kriteria: khusyuk dan terjaga (Al-Mu'minun 2 dan 9).
Parameternya, salat kita harus mampu mencegah perilaku keji dan mungkar (Al-Ankabut 45). Dengan kata lain, jika secara fisik sebetulnya kita sudah salat tapi ternyata masih maksiat, maka salatnya pasti belum beres.
Sama halnya dengan puasa. Jika gemblengan sebulan penuh ini tidak menjadikan kita berperilaku sabar, lihai mengendalikan diri, ahli mengendalikan nafsu, perilaku lebih dermawan, maka puasa kita baru berada pada level menahan lapar dan haus.
Sesungguhnya apa hebatnya puasa Ramadan? Menjadikan pelakunya memiliki habit yang luar biasa bagus. Habit bangun pagi, habit sabar, habit kuat mengendalikan diri, habit bederma, habit jujur, dan habit disiplin.
Great habit inilah yang oleh penulis dan pembicara self development selalu direkomendasikan kepada siapa saja yang ingin hidupnya sukses, sehat, dan bahagia. Untuk sukses, harus mempunyai habit sukses. Agar sehat, harus mempunyai habit sehat. Untuk bahagia pun, harus mempunyai habit bahagia.
Sebab, tidak ada yang sukses tiba-tiba, sehat dadakan, atau bahagia instan. Semua perlu proses. Seminggu, sebulan, setahun, bahkan bertahun-tahun. Barang siapa ingin sukses, harus menikmati proses, begitu pula untuk sehat dan bahagia.
Membentuk great habit, kata pakar self development, rata-rata diperlukan waktu 15 sampai 30 hari. Charles Duhigg dalam bukunya, The Power of Habit, menyebut 21 hari. Jika puasa genap sebulan penuh, proses membentuk great habit ini sebetulnya sudah lebih dari cukup.
Puasa mengajari kita untuk menikmati proses itu. Bangun pukul 3 pagi, makan sahur, salat malam, lalu jamaah subuh di masjid, lalu pulang, menghirup udara segar, kemudian siap beraktivitas. Bukan tidur lagi.
Semua ada tantangannya: tantangan lapar, tantangan mata, tantangan nafsu, tantangan tidak mengurangi waktu kerja, termasuk yang sekarang ini, tantangan nonton Piala Eropa.
Semakin mendapat tantangan, semakin matang. Pada level manakah puasa kita kali ini? Jangan dijawab saat kita masih mengenakan sarung, baju koko, dan berkopiah. Dalam keadaan begitu, kita biasanya berada pada puncak alim-alimnya, taat-taatnya, dekat-dekatnya kepada Allah.
Tapi, mari kita mengevaluasi kualitas puasa kita saat kita sudah mengenakan baju kantor, saat mengemudi, saat belanja di mal, saat antre, saat mobil kita ditabrak orang, saat mengetahui ada ibu-ibu atau anak-anak sekolah mau menyeberang jalan. Kita pelankankah mobil, kita nyalakan lampu hazardkah agar yang di belakang ikut waspada? Jika kita sudah begitu, insya Allah puasa kita berada dalam level advance.
Ibu-ibu yang menyiapkan buka puasa juga bisa diuji level kepuasaannya dengan cara sederhana seperti ini: ayam yang baru digoreng dicaplok kucing. Reaksi kita kepada kucing tersebut juga bisa dijadikan ukuran level puasa kita. Apakah kita menggebuknya pakai sapu hingga kucing terkapar atau menersenyumi keteledoran kita.
Karena itu, hikmat saya, umat Islam tidak perlu pasang spanduk besar di mana-mana: Hormatilah Bulan Puasa. Umat Islam sudah waktunya memasang spanduk: Hormatilah Yang Tidak Puasa. Menunjukkan apa? Pribadi yang matang, bukan pribadi yang manja.
Lalu mengapa, selepas Ramadan, kita kembali bangun siang, kembali tidak jamaah subuh di masjid, kembali mulut kita tidak terkontrol, kembali tidak sabaran, kembali tidak jujur, kembali sulit disiplin, suka menyerobot karena tidak mau antre? Gampang sekali jawabnya: puasa kita belum berada pada level substansi, baru pada level menahan lapar dan haus. Nah, mari kita jawab pertanyaan ini: pada level apakah derajat puasa kita kali ini?

*) Bekerja di JP Booksb

Sumber : http://library.uinsby.ac.id/index.php/news-and-events/1228-revolusi-mental-puasa-ramadan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar