| Oleh Prof Dr Abd A’la, M.Ag Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya
Puasa
bagi umat Islam memiliki makna yang sangat signifikan. Dalam alQur-an
dinyatakan dengan tegas bahwa hikmah utama puasa adalah pencapaian dan
peneguhan ketaqwaan. Secara sederhana, taqwa dapat diartikan sebagai
upaya terus menerus seseorang untuk selalu berada dalam bingkai
etika-moralitas luhur, dan sekaligus memiliki kemampuan untuk segera
kembali ke dalam nilai-nilai tersebut manakala suatu saat ia
terperangkap ke hal-hal yang tidak sejalan atau berseberangan dengan
keluhuran tersebut. Ujung dari taqwa adalah pengendalian diri dari
dorongan hawa nafsu yang degradatif, dan pangkalnya adalah implementasi
kearifan dan keagungan sikap, perilaku, dan sejenisnya dalam kehidupan
pada berbagai dimensinya. Dengan demikian, seorang Muslim di bulan puasa
dituntut (dan tidak ada pilihan lain) untuk bermujahadah, berlatih
keras untuk meraih ketaqwaan itu. Selepas puasa, pola semacam itu terus
dikembangkan secara berkelanjutan sehingga kita menjadi insan paripurna.
Signifikansi
puasa menjadi berlipat-ganda bagi Muslim Indonesia dengan adanya
Pemilihan Presiden (Pilpres) Indonesia 9 Juli lalu yang kebetulan atau
sengaja diagendakan pelaksanaannya jatuh di bulan puasa Ramadlan.
Sebagaimana fenomena yang tampak, tidak sedikit Muslim Indonesia yang
selama masa-masa kampanye, pada saat pelaksanaan pilpres, dan bahkan
hingga saat ini demikian mudah terjebak ke dalam hal-hal yang tidak
mencerminkan keluhuran budi. Dalam ungkapan lain, ada beberapa (kalau
tidak banyak) Muslim di negeri pertiwi ini yang mengeluarkan ungkapan
atau dan tindakan yang bisa dinilai keluar dari ketaqwaan. Mereka,
misalnya, demikian mudah menjelekkan dan menyebarkan sisi-sisi negatif
(kendati hanya dugaan dan mereka tidak tahu sendiri) pasangan capres
atau cawapres lain atau dan pendukungnya yang bukan menjadi pilihan
mereka. Kita bisa juga melihat atau mendengarkan adanya beberapa orang
yang –implisit atau eksplisit –mengklaim melalui media sosial atau massa
bahwa diri mereka dan capres-cawapres idola mereka representasi dari
kebaikan, kebenaran, keunggulan, dan sejenisnya, sedangkan
capres-cawapres lain diposisikan sebaliknya.
Fenomena
semacam itu tentu kontradiksi dengan kehidupan yang harus dikembangkan
oleh setiap dan kelompok Muslim mana pun, sebagaimana pula sejatinya
tidak muncul dalam kehidupan negara yang bangsa, rakyat dan
masyarakatnya taat beragama. Selain bertentangan dengan nilai dan ajaran
agama mana pun, saling menghujat, saling menghina, saling menyalahkan
dan tindakan serupa itu juga sangat rentan dan berpotensi memecah-belah
anak bangsa. Hal itu dapat menyisakan ruang terjadinya keretakan yang
–sekecil apa pun –dapat mengusik keutuhan bangsa dan kelestarian Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Penampakan
itu menjadi sangat ironis karena pengumbaran sikap dan perilaku yang
bernuansa hawa nafsu itu terjadi di bulan Ramadlan yang mayoritas
penduduknya beragama Islam. Namun karena realitasnya sudah terjadi, maka
kita (atau lebih tepatnya, pelaku) dituntut untuk mengakui bahwa kita
(mereka) telah melakukan kesalahan itu.
Dalam
prespektif Islam, melakukan kesalahan, dan jatuh ke dalam dosa merupakan
hal yang wajar dan merupakan bagian dari tahapan kehidupan yang harus
dijalani setiap orang Muslim. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan
Muslim, Nabi menyatakan di atas sumpah bahwa seandainya ada umat Islam
yang tidak (mengakui) pernah berbuat dosa atau kesalahan, maka Allah
akan melenyapkan umat Islam tersebut dan mengganti mereka dengan
generasi Muslim lain yang (mau mengakui bahwa mereka) berbuat dosa, tapi
sekaligus menyesalinya dan benar-benar memohon ampun kepada Allah, dan
Allah pun pasti mengampuni mereka.
Berpegang
pada Hadis tersebut, umat Islam Indonesia, kita –terutama mereka yang
telah nyata-nyata sebelum ini melakukan melalui cara apa pun suatu
perbuatan dosa kepada umat Islam lain, kepada masyarakat atau kepada
sesama –niscaya untuk menyadarinya dan dengan sepenuh hati mau memohon
ampun kepada sang Pencipta. Pada saat yang sama, mereka dituntut
berkomitmen untuk tidak akan pernah melakukan hal yang serupa lagi.
Di
sini, mulai bulan puasa tahun ini, mereka hendaknya melakukan upaya
mentransformasikan paradoks-paradok yang sangat ironis itu (terutama
yang berkaitan dengan degradasi etika-moral yang mereka lakukan selama
proses, pelaksanaan, dan pasca Pilpres) menjadi sebuah kekuatan baru
menuju kesejatian jadi diri muslim, dan karekteristik bangsa yang
beradab. Mereka (atau kita) melalui keberpuasaan hakiki tidak memiliki
pilihan lain kecuali merawat totalitas diri kita melalui pengendalian
diri dari tarikan dan dorongan yang akan merendahkan martabat
nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan. Dengan pengendalian diri, kita
kembangkan kebersamaan, solidaritas sosial, sikap saling menghormati,
dan tanggung jawab untuk melestarikan NKRI dengan segala
karakteristiknya.
Artikel ini telah dimuat di Koran Sindo, Minggu 13 Juli 2014.
Sumber : http://www.uinsby.ac.id/kolom/id/31/puasa-merawat-diri-meneguhkan-nkri
|
Blog Ini Berisi Tentang Artikel, Berita, yang diambil dari berbagai macam sumber media cyber, maupun cetak yang bertujuan memberikan informasi kepada khalayak luas guna memberi tambahan refrensi bagi para pembaca. Selain itu Blog ini juga terdapat tulisan asli pemilik akun Blog ini yaitu Lukman Alfarisi, baik yang sudah pernah muncul di media maupun tidak.
Minggu, 05 Juni 2016
PUASA; Merawat Diri, Meneguhkan NKRI
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar