Minggu, 05 Juni 2016

PUASA; Merawat Diri, Meneguhkan NKRI

Oleh Prof Dr Abd A’la, M.Ag
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Puasa bagi umat Islam memiliki makna yang sangat signifikan. Dalam alQur-an dinyatakan dengan tegas bahwa hikmah utama puasa adalah pencapaian dan peneguhan ketaqwaan. Secara sederhana, taqwa dapat diartikan sebagai upaya terus menerus seseorang untuk selalu berada dalam bingkai etika-moralitas luhur, dan sekaligus memiliki kemampuan untuk segera kembali ke dalam nilai-nilai tersebut manakala suatu saat ia terperangkap ke hal-hal yang tidak sejalan atau berseberangan dengan keluhuran tersebut. Ujung dari taqwa adalah pengendalian diri dari dorongan hawa nafsu yang degradatif, dan pangkalnya adalah implementasi kearifan dan keagungan sikap, perilaku, dan sejenisnya dalam kehidupan pada berbagai dimensinya. Dengan demikian, seorang Muslim di bulan puasa dituntut (dan tidak ada pilihan lain) untuk bermujahadah, berlatih keras untuk meraih ketaqwaan itu. Selepas puasa, pola semacam itu terus dikembangkan secara berkelanjutan sehingga kita menjadi insan paripurna.
Signifikansi puasa menjadi berlipat-ganda bagi Muslim Indonesia dengan adanya Pemilihan Presiden (Pilpres) Indonesia 9 Juli lalu yang kebetulan atau sengaja diagendakan pelaksanaannya jatuh di bulan puasa Ramadlan. Sebagaimana fenomena yang tampak, tidak sedikit Muslim Indonesia yang selama masa-masa kampanye, pada saat pelaksanaan pilpres, dan bahkan hingga saat ini demikian mudah terjebak ke dalam hal-hal yang tidak mencerminkan keluhuran budi. Dalam ungkapan lain, ada beberapa (kalau tidak banyak) Muslim di negeri pertiwi ini yang mengeluarkan ungkapan atau dan tindakan yang bisa dinilai keluar dari ketaqwaan. Mereka, misalnya, demikian mudah menjelekkan dan menyebarkan sisi-sisi negatif (kendati hanya dugaan dan mereka tidak tahu sendiri) pasangan capres atau cawapres lain atau dan pendukungnya yang bukan menjadi pilihan mereka. Kita bisa juga melihat atau mendengarkan adanya beberapa orang yang –implisit atau eksplisit –mengklaim melalui media sosial atau massa bahwa diri mereka dan capres-cawapres idola mereka representasi dari kebaikan, kebenaran, keunggulan, dan sejenisnya, sedangkan capres-cawapres lain diposisikan sebaliknya.
Fenomena semacam itu tentu kontradiksi dengan kehidupan yang harus dikembangkan oleh setiap dan kelompok Muslim mana pun, sebagaimana pula sejatinya tidak muncul dalam kehidupan negara yang bangsa, rakyat dan masyarakatnya taat beragama. Selain bertentangan dengan nilai dan ajaran agama mana pun, saling menghujat, saling menghina, saling menyalahkan dan tindakan serupa itu juga sangat rentan dan berpotensi memecah-belah anak bangsa. Hal itu dapat menyisakan ruang terjadinya keretakan yang –sekecil apa pun –dapat mengusik keutuhan bangsa dan kelestarian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Penampakan itu menjadi sangat ironis karena pengumbaran sikap dan perilaku yang bernuansa hawa nafsu itu terjadi di bulan Ramadlan yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun karena realitasnya sudah terjadi, maka kita (atau lebih tepatnya, pelaku) dituntut untuk mengakui bahwa kita (mereka) telah melakukan kesalahan itu.
Dalam prespektif Islam, melakukan kesalahan, dan jatuh ke dalam dosa merupakan hal yang wajar dan merupakan bagian dari tahapan kehidupan yang harus dijalani setiap orang Muslim. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Muslim, Nabi menyatakan di atas sumpah bahwa seandainya ada umat Islam yang tidak (mengakui) pernah berbuat dosa atau kesalahan, maka Allah akan melenyapkan umat Islam tersebut dan mengganti mereka dengan generasi Muslim lain yang (mau mengakui bahwa mereka) berbuat dosa, tapi sekaligus menyesalinya dan benar-benar memohon ampun kepada Allah, dan Allah pun pasti mengampuni mereka.
Berpegang pada Hadis tersebut, umat Islam Indonesia, kita  –terutama mereka yang telah nyata-nyata sebelum ini melakukan melalui cara apa pun suatu perbuatan dosa kepada umat Islam lain, kepada masyarakat atau kepada sesama –niscaya untuk menyadarinya dan dengan sepenuh hati mau memohon ampun kepada sang Pencipta. Pada saat yang sama, mereka dituntut berkomitmen untuk tidak akan pernah melakukan hal yang serupa lagi. 
Di sini, mulai bulan puasa tahun ini, mereka hendaknya melakukan upaya mentransformasikan paradoks-paradok yang sangat ironis itu (terutama yang berkaitan dengan degradasi etika-moral yang mereka lakukan selama proses, pelaksanaan, dan pasca Pilpres) menjadi sebuah kekuatan baru menuju kesejatian jadi diri muslim, dan karekteristik bangsa yang beradab. Mereka (atau kita) melalui keberpuasaan hakiki tidak memiliki pilihan lain kecuali merawat totalitas diri kita melalui pengendalian diri dari tarikan dan dorongan yang akan merendahkan martabat nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan. Dengan pengendalian diri, kita kembangkan kebersamaan, solidaritas sosial, sikap saling menghormati, dan tanggung jawab untuk melestarikan NKRI dengan segala karakteristiknya.
Artikel ini telah dimuat di Koran Sindo, Minggu 13 Juli 2014.

Sumber : http://www.uinsby.ac.id/kolom/id/31/puasa-merawat-diri-meneguhkan-nkri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar