Jumat, 03 Juni 2016

KURBAN ISMAIL DAN HUMANISME

oleh :
Itsna Syahadatud Dinurriyah
Fakultas Adab dan Humaniora
Sehabis shalat Idul Adha, kami berkumpul dengan keluarga besar sebagaimana yang biasa di lakukan oleh keluarga yang lain saat hari libur agama sembari menunggu pemotongan hewan kurban. Meski lagi berbincang, gadget tetap di tangan kiri. Biasa, hidup sebagai generasi gadget berasa ada yang hilang jika lupa bawa yang satu ini. Tak lama kemudian hp mengeluarkan nada pendek. Seorang mahasiswa mengirim pesan lewat facebook,” Bu, Senin libur tidak?” Duh…mahasiswa dari dulu sampai sekarang kok suka sekali sama yang namanya libur. Mereka pikir mungkin dosennya tidak suka libur.  Tapi kalender kan tidak bilang begitu. Jadinya kan pengen gigit sate…
Gara-gara lihat inbox akhirnya jempol tertarik untuk menyentuh home. Otomatis beberapa status terbaca, rata-rata tentang ucapan selamat hari raya termasuk dari salah satu teman saya yang beragama Katholik. Sambil menggeser cursor, jempol saya terhenti pada sebuah status dari salah seorang teman akrab saya. Dia menulis: Kita lupa bersyukur tentang ‘untung yang disuruh nyembelih itu Nabi Ibrahim AS’…Alhamdulillah…
Entah kenapa saya sangat terusik dengan status itu. Cursor yang sudah ke bawah, saya sentuh kembali ke arah status itu. Dengan penuh kesadaran saya memberi komentar….
Bro, kadang kita juga lupa bahwa tradisi mengurbankan anak sudah ada sejak dulu. Tradisi itu dianut oleh berbagai agama dari berbagai sekte. Di Indonesia kita punya cerita rakyat tentang Joko Tengger dan Roro Anteng yang mengurbankan anak terakhir mereka setelah memiliki anak banyak. Di novel sekuel karya Dan Brown kita juga sering membaca tentang ritual menyerahan kurban yang merupakan seorang anak. Banyak bro. Tradisi itu dimaksudkan sebagai rasa syukur atau tumbal kesuksesan.
Itu dulu jaman manusia masih pada era emosional. Tapi kan Allah Maha Tahu, bro, kalau kita akan berjalan menjadi manusia yang lebih rasional. Makanya Allah mengubah tradisi tersebut menjadi lebih humanis untuk difikirkan. Kita tidak perlu mengurbankan anak. Cukup binatang kurban. Memang, perintah penyembelihan Ismail bagi kita terasa inhuman. Tapi kan dengan serta merta Allah mengubahnya menjadi domba? Mungkin banyak orang yang mengaitkannya dengan berbagai simbol dan intrepretasi. Tapi apa kita lahir di jaman Nabi Ibrahim, bro? Apa kita tahu bahwa saat itu masih ada atau bahkan banyak orang tua yang mengurbankan anaknya? Harus digarisbawahi ya bro bahwa kepercayaan konvensional itu menganggap anak adalah property orang tua. Jadi terserah orang tua itu anak mau diapakan.
Bisa kita renungkan kan bro, betapa hebatnya Allah mengajarkan sebuah perubahan dan betapa mulianya agama tauhid itu. Betapa manusia itu di manusiakan dengan peristiwa penyembelihan Ismail itu. Memang sih, yang lebih menyentuh itu karena Ibrahim memiliki anak pada usia sangat renta. Satu-satunya dari Siti Hajar pula. Apalagi sebelumnya karena anak dari istri keduanya ini baru saja di usir oleh Sarah. Wajar lah bro, mana ada perempuan tidak cemburu dengan madunya. Sangat manusiawi bro.
Jadi, kita ini bukan beruntung bro tidak diperintahkan menyembelih anak. Tapi karena kita belum atau bahkan tidak layak untuk mendapatkan ‘cobaan’ seperti itu. Kita baru sampai pada fit and proper test saat naik jabatan saja bro. Kadang-kadang kita juga sok-sokan bilang,” Hai masalah besar, aku punya Tuhan yang maha besar”. Itu kan pas kita habis nonton 99 Cahaya di Langit Eropa. Padahal, kita itu banyak lupanya. Sering ngeluh terutama ketika tidak punya duit. Maklum, kapitalisme sedang berkuasa bro.
Intinya bro, Allah tidak akan pernah salah pilih orang. Dia Maha Tahu, mana yang ikhlas beneran sama yang pura-pura tulus. Jadi, jangan pernah modus sama yang maha kuasa….
*komen terpanjang pada facebook*

Sumber : http://www.uinsby.ac.id/kolom/id/18/kurban-ismail-dan-humanisme

Tidak ada komentar:

Posting Komentar