Itsna Syahadatud Dinurriyah
Fakultas Adab dan Humaniora
Sehabis
shalat Idul Adha, kami berkumpul dengan keluarga besar sebagaimana yang
biasa di lakukan oleh keluarga yang lain saat hari libur agama sembari
menunggu pemotongan hewan kurban. Meski lagi berbincang, gadget tetap di tangan kiri. Biasa, hidup sebagai generasi gadget berasa ada yang hilang jika lupa bawa yang satu ini. Tak lama kemudian hp mengeluarkan nada pendek. Seorang mahasiswa mengirim pesan lewat facebook,”
Bu, Senin libur tidak?” Duh…mahasiswa dari dulu sampai sekarang kok
suka sekali sama yang namanya libur. Mereka pikir mungkin dosennya tidak
suka libur. Tapi kalender kan tidak bilang begitu. Jadinya kan pengen
gigit sate…
Gara-gara lihat inbox akhirnya jempol tertarik untuk menyentuh home.
Otomatis beberapa status terbaca, rata-rata tentang ucapan selamat hari
raya termasuk dari salah satu teman saya yang beragama Katholik. Sambil
menggeser cursor, jempol saya terhenti pada sebuah status dari salah seorang teman akrab saya. Dia menulis: Kita lupa bersyukur tentang ‘untung yang disuruh nyembelih itu Nabi Ibrahim AS’…Alhamdulillah…
Entah kenapa saya sangat terusik dengan status itu. Cursor yang sudah ke bawah, saya sentuh kembali ke arah status itu. Dengan penuh kesadaran saya memberi komentar….
Bro,
kadang kita juga lupa bahwa tradisi mengurbankan anak sudah ada sejak
dulu. Tradisi itu dianut oleh berbagai agama dari berbagai sekte. Di
Indonesia kita punya cerita rakyat tentang Joko Tengger dan Roro Anteng
yang mengurbankan anak terakhir mereka setelah memiliki anak banyak. Di
novel sekuel karya Dan Brown kita juga sering membaca tentang ritual
menyerahan kurban yang merupakan seorang anak. Banyak bro. Tradisi itu
dimaksudkan sebagai rasa syukur atau tumbal kesuksesan.
Itu
dulu jaman manusia masih pada era emosional. Tapi kan Allah Maha Tahu,
bro, kalau kita akan berjalan menjadi manusia yang lebih rasional.
Makanya Allah mengubah tradisi tersebut menjadi lebih humanis untuk
difikirkan. Kita tidak perlu mengurbankan anak. Cukup binatang kurban.
Memang, perintah penyembelihan Ismail bagi kita terasa inhuman.
Tapi kan dengan serta merta Allah mengubahnya menjadi domba? Mungkin
banyak orang yang mengaitkannya dengan berbagai simbol dan intrepretasi.
Tapi apa kita lahir di jaman Nabi Ibrahim, bro? Apa kita tahu bahwa
saat itu masih ada atau bahkan banyak orang tua yang mengurbankan
anaknya? Harus digarisbawahi ya bro bahwa kepercayaan konvensional itu
menganggap anak adalah property orang tua. Jadi terserah orang tua itu anak mau diapakan.
Bisa
kita renungkan kan bro, betapa hebatnya Allah mengajarkan sebuah
perubahan dan betapa mulianya agama tauhid itu. Betapa manusia itu di
manusiakan dengan peristiwa penyembelihan Ismail itu. Memang sih, yang
lebih menyentuh itu karena Ibrahim memiliki anak pada usia sangat renta.
Satu-satunya dari Siti Hajar pula. Apalagi sebelumnya karena anak dari
istri keduanya ini baru saja di usir oleh Sarah. Wajar lah bro, mana ada
perempuan tidak cemburu dengan madunya. Sangat manusiawi bro.
Jadi,
kita ini bukan beruntung bro tidak diperintahkan menyembelih anak. Tapi
karena kita belum atau bahkan tidak layak untuk mendapatkan ‘cobaan’
seperti itu. Kita baru sampai pada fit and proper test saat
naik jabatan saja bro. Kadang-kadang kita juga sok-sokan bilang,” Hai
masalah besar, aku punya Tuhan yang maha besar”. Itu kan pas kita habis
nonton 99 Cahaya di Langit Eropa. Padahal, kita itu banyak lupanya. Sering ngeluh terutama ketika tidak punya duit. Maklum, kapitalisme sedang berkuasa bro.
Intinya bro, Allah tidak akan pernah salah pilih orang. Dia Maha Tahu, mana yang ikhlas beneran sama yang pura-pura tulus. Jadi, jangan pernah modus sama yang maha kuasa….
*komen terpanjang pada facebook*
Sumber : http://www.uinsby.ac.id/kolom/id/18/kurban-ismail-dan-humanisme
Tidak ada komentar:
Posting Komentar