Oleh Nadia Egalita*
PENYANYI yang ngetop lewat acara kontes The Voice, Christina Grimmie, ditembak setelah menggelar konser musik di Orlando, Amerika Serikat (10/6). Artis muda berusia 22 tahun itu ditembak seorang pria bersenjata di bagian kepalanya. Meski sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat dalam kondisi kritis, dia dinyatakan tewas keesokan harinya.
Kematian Christina Grimmie itu menambah daftar panjang selebriti yang menjadi korban penembakan penggemar atau orang lain yang memusuhinya. Meski tidak sespektakuler kematian pentolan The Beatles John Lennon yang juga tewas ditembak salah seorang penggemarnya, tetap saja tewasnya Grimmie menimbulkan kegaduhan dan menjadi viral di dunia maya.
Hiperealitas
Bagi para penggemar, seorang idola tidak hanya dipuja, tetapi juga dijadikan sosok acuan dalam membangun identitas sosial. Seorang penggemar yang sudah telanjur keranjingan tidak hanya memasang gambar-gambar sang bintang di kamarnya dan sering menelusuri informasi tentang idolanya. Namun, dia juga membangun perasaan subjektif tentang kedekatan (semu) dirinya dengan sang idola.
Dalam pandangan teoretisi postmodern seperti Jean Baudrillard (1983), perilaku keranjingan dan kegandrungan para penggemar terhadap artis pujaan sesungguhnya adalah sebuah realitas yang bersifat artifisial atau superfisial. Sebuah hyperreality yang tercipta karena peran teknologi simulasi dan pencitraan yang mengambil alih dunia realitas yang alamiah.
Hiperealitas, menurut Baudrillard, merupakan model-model realitas yang tidak ada referensinya pada realitas. Hiperealitas tidak memiliki rujukan atau referensi pada realitas, sebagaimana umumnya dunia representasi atau pertandaan, melainkan merujuk pada dirinya sendiri (self-reference).
Seorang penggemar yang adiktif, dan memuja artis idolanya, dalam benak mereka yang timbul niscaya dua hal yang ambivalen. Pertama, mereka menjadi sosok penggemar yang tersimulakra. Sangat lekat dengan kehidupan artis idola dan memujanya hingga kelewat batas.
Apa pun yang dilakukan idolanya, penggemar akan meniru dan bahkan menjadikannya role model. Kedua, kelompok penggemar yang di satu sisi sangat mengidolakan artis kesukaannya, tetapi pada satu titik, ketika mereka merasa kecewa, yang timbul biasanya adalah fanatisme yang kebablasan. Atau bahkan kebencian yang benar-benar mendalam.
Dalam keseharian, ketika sang idola ternyata tidak membalas apa yang dirasakan penggemar, bukan tidak mungkin yang dilakukan penggemar itu kemudian adalah tindakan nekat. Menculik artis idola, bahkan membunuhnya, adalah salah satu bentuk ekspresi fanatisme penggemar yang tidak puas karena adanya kesenjangan antara realitas yang nyata (real) dan yang imajiner.
Ambivalensi
Di masyarakat postmodern, ciri yang menandai masyarakat, selain makin luasnya penggunaan teknologi informasi, yang tak kalah penting adalah makin mengemukanya kebohongan dan distorsi. Realitas kehidupan artis, di mata para penggemar, dipahami seperti yang tersaji dalam media massa, televisi, film, atau sebagaimana diberitakan surat kabar. Karena itu, dalam konstruksi penggemar, sosok artis selalu dipahami dalam konteks yang ideal sesuai harapan.
Artinya, apa yang digambarkan dan diberitakan media tidak lagi mencerminkan realitas. Namun, ironisnya, justru realitas bentukan media itu dianggap sebagai realitas asli atau bahkan lebih nyata dari realitas itu sendiri. Di berbagai film, misalnya, sosok artis yang digemari biasanya akan tampil penuh pesona. Padahal, dalam dunia nyata, barangkali, sosok aslinya sama sekali tidak tergambar seperti peran yang mereka mainkan dalam film-film yang dibintangi.
Dalam kehidupan di era postmodern seperti sekarang ini, akibat yang terjadi adalah apa yang nyata (real) disubordinasikan dan akhirnya dilarutkan sama sekali sehingga mustahil membedakan yang nyata dan yang menjadi tontonan. Dalam kehidupan nyata, kejadian-kejadian ''nyata'' semakin mengambil ciri hiper-real. Karena itu, tidak ada lagi realitas, karena yang ada hanyalah hiper-realitas.
Pemikiran Baudrillard seperti di atas sesungguhnya bisa menjelaskan mengapa seorang penggemar yang kecewa kemudian tega menembak bintang idola karena merasa dikecewakan atau karena ingin dikenang sebagai pasangan yang setia sehidup-semati. Dengan menembak sang idola, dan kemudian pelaku juga menembak dirinya sendiri hingga sama-sama tewas, dalam pandangan penggemar yang sudah telanjur keranjingan, dianggap sebagai bentuk kesetiaan dan cinta sampai keduanya tidak lagi bernapas di dunia.
Dari segi hukum, tindakan penggemar yang fanatik seperti di atas tentu berbahaya dan bisa merugikan sang artis. Jadi, sudah sewajarnya jika aparat penegak hukum kemudian mengeluarkan surat perintah larangan bagi seorang penggemar yang fanatik berada di sekitar artis pujaan.
Tetapi, untuk memastikan sejauh mana tindakan penggemar dapat dibenarkan serta tidak membahayakan keselamatan dan kehidupan sang idola, selain pendekatan hukum, tak pelak yang dibutuhkan adalah pendekatan yang lebih persuasif. Terutama untuk mencegah agar tidak muncul penggemar-penggemar yang lupa diri, imitatif, dan kehilangan jati dirinya sebagai manusia.
Semoga daftar artis atau selebriti yang menjadi korban pembunuhan tidak lagi bertambah.
*) Lulusan Faculty of Art Monash University Australia, sekarang melanjutkan pendidikan ke program S-2 Communication and Media Studies Monash University Australia
Sumber : http://library.uinsby.ac.id/index.php/news-and-events/1230-hiperealitas-di-balik-penembakan-christina-grimmie
Tidak ada komentar:
Posting Komentar