Minggu, 05 Juni 2016

MAKNA KEBERSAMAAN UNTUK BERBAGI

Oleh: KH. Drs. Misbahul Munir, M.Ag
(Kepala Pusat Ma’had al-Jami’ah UIN Sunan Ampel)

Pusat Ma’had al-Jami’ah (PMA) dan Masjid Ulul Albab UIN Sunan Ampel Surabaya turut menyemarakkan bulan suci Ramadhan melalui beberapa agenda kegiatan, seperti kajian kitab Kuning, menerima dan membagikan infak, sholat Tarawih dan lain-lain. Beberapa hari lalu Pusat Ma’had al-Jami’ah melalui Masjid Ulul Albab UINSA membagikan bingkisan bagi masyarakat umum menjelang buka puasa Ramadhan.
Sebagai agenda tahunan, kegiatan ini dianggap penting sebab menjadi salah satu alternatif kegiatan yang dipandang mampu mendongkrak’ pelakunya merebut bonus-bonus pahala yang memang dijanjikan melalui bahasa agama, sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk selalu menumbuhkan kebaikan.
Secara sosiologis, ada 2 pelajaran berharga yang dipetik dari kegiatan-kegiatan Ramadhan yang dilakukan oleh PMA, khususnya pembagian bingkisan jelang berbuka puasa. Pertama, pentingnya kebersamaan. Prinsip ini setidaknya bisa dilihat dari proses-proses menuju terselengaranya acara ini, yakni adanya keterlibatan unsur-unsur civitas akademika kampus UIN, yang terdiri atas tenaga pendidik dan kependidikan. Untuk itu, sebagai penyelenggara PMA mengucapkan terima kasih.
Di luar itu, dalam konteks yang lebih luas prinsip-prinsip kebersamaan itu penting dibangun dalam semua ranah kehidupan, terlebih di lingkungan kampus. Dengan kebersamaan itulah, mimpi kolektif tentang sebuah cita-cita akan mudah diwujudkan, berbeda ketika kebersamaan itu hilang diganti dengan sikap saling tidak percaya atau bahkan saling “Curiga”.
Pepatah Arab mengatakan bahwa al-Jama’ah Rahmatun wa al-furqatu ‘Adhabun (Kebersamaan/Jama’ah adalah Rahmat dan bercerai berai adalah siksaan). Dari pepatah ini, dipahami bahwa kebersamaan akan melahirkan sifat kasih sayanya antar sesama. Sebaliknya, bercerai-berai akan memunculkan siksaan, tepatnya situasi tidak menguntungkan bagi yang lain.    
Kedua, kepedulian kepada sesama. memberikan makanan jelang berbuka hakekatnya menumbuhkan sikap peduli kepada sesama,. Prinsip peduli pada dasarnya menegaskan pemahaman bahwa kita hidup tidak sendiri, tapi ber-sosial. Karena bersosial, maka penghargaan kepada orang lain sejatinya adalah penghargaan pada diri sendiri sebab orang lain adalah cermin dari keberadaan kita. Bisa dibayangkan bagaimana kita hidup sendirian di hutan luas, tidak ada orang dan kehidupan sedikitpun. Pastinya, perasaan tersiksa akan terasa sebab semua kebutuhan hidup ini memiliki jejaring dengan kehidupan orang lain, termasuk dengan hewan sekalipun.
Untuk itulah, prinsip berbagi harus dijadikan modal bagi kita –khususnya sebagai insan akademik—dalam rangka menjaga kesenjangan antara kesalehan individual dengan kesalehan sosial agar tidak semakin melebar sebab Islam mengajarkan agar kita bersikap balance dalam rangka menuai kebaikan di dunia, sekaligus di akhirat (rabbana atina fi al-dunya hasanah wa fil akhirat hasanah….). Dan sikap berbagi ini sekaligus dalam rangka menjaga gap antara teori dan praktik, dimana secara teoritis-normatif kita meyakini bahwa perintah berbagi adalah anjuran agama sebagaimana termaktub dalam al-Qur’an maupun praktik-praktik kenabian (hadith)
Akhirnya, patut kiranya diperhatikanbahwa kebersamaan perlu terus dipupuk, bahkan perlu ditingkatkan secara terus menerus hingga pasca Ramadhan berlalu. Alasannya, hanya dengan cara-cara seperti ini kesulitan apapun yang kita hadapi dalam hidup akan mudah disikapi untuk selanjutnya, sekaligus berkat pertolongan Allah,akan ditemukan solusinya. SELAMAT BERPUASA.

Sumber  http://www.uinsby.ac.id/kolom/id/33/makna-kebersamaan-untuk-berbagi


Tidak ada komentar:

Posting Komentar