Ali Muhdi, M.Si
Dosen dan Sekretaris Jurusan SKI Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya
Pertama
dalam sejarah demokrasi di Indonesia ada tradisi baru yakni transisi
kekuasaan dari Presiden Incumbent (SBY) ke Presiden terpilih (Joko
Widodo) dengan menyiapkan tim transisi dengan pola komunikasi politik
yang produktif dan penuh keakraban. Ini potret reformulasi komunikasi
politik santun antar pemimpin yang saling elegan dan sangat patut
dicontoh dalam dinamika kehidupan berdemokrasi.
Setelah
SBY melakukan pertemuan empat dengan Presiden terpilih Joko Widodo
(Jokowi) di Nusa Dua Bali beberapa saat yang lalu, secara mengejutkan,
SBY mengundang beberapa tokoh Koalisi Merah Putih di kediamannya di Puri
Cikeas dengan agenda menyamakan visi, misi dan persepsi untuk
bersikukuh mengambil langkah sebagai kekuatan penyeimbang atas
pemerintahan Jokowi-JK (Jawapos, 3/09).
Dalam
kalkulasi politik, langkah SBY “berunding” dengan pasangan Jokowi-JK
secara terpisah, sementara di tempat dan waktu yang berbeda, SBY membuka
ruang komunikasi dengan mengajak tokoh-tokoh pemimpin Koalisi Merah
Putih, ini merupakan langkah sangat produktif dan harus diapresiasi
dalam membangun transisi menuju konsolidasi demokrasi. Dengan sikap yang
demikian, SBY merupakan representasi pemimpin politik yang negarawan.
Jika proses demokrasi berjalan dengan irama seperti ini, berarti proses
demokratisasi elit ini akan selaras dengan terbangunnya demokratisasi
pada tingkat grass-root. Dengan
demikian, konsolidasi demokrasi menemukan titik cerah, ekspektasi pasar
semakin baik dan kepercayaan (trust) masyarakat semakin tinggi.
Peta Politik Keseimbangan
Konfigurasi politik dalam pilpres kali ini cukup surprise,
karena kekuatan parpol pendukung kedua figur capres memiliki banyak
keunikan, yaitu dalam kalkulasi politik rasional di parlemen yang total
anggotanya berjumlah 560 orang, justru kekuatan Jokowi-JK berjumlah 207
kursi sedangkan Prabowo-Hatta berjumlah 292 kursi ditambah 61 kursi dari
partai demokrat yang telah merapat ke kubu Koalisi Merah Putih,
sehingga total pendukung Prabowo di parlemen berjumlah 353 suara. Dalam
politik angka, fenomena ini ibarat kancil melawan harimau.
Penulis
berimajinasi bahwa jika hasil transisi yang digagas SBY dan Jokowi
menghasilkan visi dan misi serta platform dan program yang kondusif,
termasuk lahirnya ”zaken cabinet” (kabinet ahli), maka pasti
melahirkan ekspektasi pasar meningkat dan respon publik makin baik.
Namun demikian, matematika politik di parlemen sangat menantang
pemerintahan Jokowi-JK.
Jika
kekuatan Jokowi-JK di parlemen hanya 207 kursi, sementara Koalisi Merah
Putih mengantongi 353 kursi, maka otomatis pemerintahan Jokowi-JK akan
mengalami ketidakseimbangan kekuatan politik di parlemen.
Konsekuensinya, apapun produk kebijakan yang digulirkan Jokowi-JK pasti
akan mengalami ’bayang-bayang’ tantangan sekaligus tentangan dari kubu
Koalisi Merah Putih yang memiliki performa yang ’gagah dan berani’
melakukan ’adu program dan reasoning’ serta kontrol politik yang sangat
kuat.
Dua
kekuatan besar akan beradu kekuatan dan kekuasaan. Jokowi-JK di
pemerintahan dengan kekuatan program pro-poor yang didukung para menteri
dengan kriteria ”zaken cabinet” (kabinet ahli) tanpa tekanan partai
manapun dengan amunisi APBN yang representatif, namun di lain pihak ada
kekuatan dan kekuasaan legislatif yang ”pasang badan’ untuk melakukan
fungsi budgeting dan pengawasan dan pengawalan terhadap implementasi programnya eksekutif. Proses politik inilah cerminan ”balancing of power”
yang selama ini menjadi impian para akademisi maupun pelaku ekonomi.
Konsekuensinya, ada kepastian hukum, kepastian politik, kepastian
kebijakan ekonomi, dan kepastian adanya trust di masyarakat.
Respon Ajakan SBY
Terobosan
komunikasi politik antar elit yang dilakukan oleh SBY baik di Bali dan
di Puri Cikeas tentu memiliki korelasi dan pengaruh besar terhadap
keinginan besar masyarakat akan terbangunnya demokrasi ala Indonesia
(Pancasila). Ajakan SBY agar Koalisi Merah Putih menjadi bagian dalam
pembangunan ke depan dengan berposisi sebagai kekuatan penyeimbang, hal
itu merupakan keniscayaan yang memang diharapkan publik dan menjadi
magnet para pengamat dalam dan luar negeri yang mengimpikan Indonesia
sebagai negara demokratis dengan simbol balancing of power (keseimbangan kekuasaan).
Dalam konteks kebijakan, jika fenomena vis a vis
ini terjadi, maka rakyat sebagai subjek pembangunan akan semakin
memiliki ekspektasi dan bisa menikmati kebijakan politik yang lebih
menjanjikan kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan, akibat adanya
kolaborasi konseptual sekaligus implementasi dan pengawasannya.
Alhasil,
komunikasi politik SBY dengan Jokowi dan ajakan SBY terhadap Koalisi
Merah Putih untuk menjadi kekuatan penyeimbang merupakan cerminan
kenegarawanan para pemimpin dalam memperbaiki mainset demokrasi politik
serta pola komunikasi yang lebih produktif, efektif dan efisien menuju
perubahan Indonesia baru yang mampu menjamin rakyat aman, nyaman serta
berdaulat dan bermartabat bagi terwujudnya cita ideal masyarakat
Indonesia yang seutuhnya sebagaimana tertuang dalam preambule UUD 1945.
* Ali Muhdi, M.Si, Dosen dan Sekretaris Jurusan SKI Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya.
Sumber : http://www.uinsby.ac.id/kolom/id/22/membangun-politik-keseimbangan
|
Blog Ini Berisi Tentang Artikel, Berita, yang diambil dari berbagai macam sumber media cyber, maupun cetak yang bertujuan memberikan informasi kepada khalayak luas guna memberi tambahan refrensi bagi para pembaca. Selain itu Blog ini juga terdapat tulisan asli pemilik akun Blog ini yaitu Lukman Alfarisi, baik yang sudah pernah muncul di media maupun tidak.
Minggu, 05 Juni 2016
Membangun Politik Keseimbangan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar