| Oleh : Prof. Moh Ali Aziz M.Ag |
لِكَ أَمۡرُ ٱللَّهِ أَنزَلَهُۥٓ إِلَيۡكُمۡۚ وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يُكَفِّرۡ عَنۡهُ سَئَِّاتِهِۦ وَيُعۡظِمۡ لَهُۥٓ أَجۡرًا ٥
Itulah
perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu, dan barangsiapa yang
bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya
dan akan melipatgandakan pahala baginya (QS. At Thalaq [65]:5).
Ayat ini
kelanjutan dari tiga ayat sebelumnya (QS. 65: 2-4) tentang keuntungan
bagi orang yang bertakwa, yaitu (1) mendapat solusi atas semua masalah
hidup (2) memperoleh banyak rizki di luar dugaan, dan (3) kemudahan
dalam segala urusan. Selanjutnya pada ayat ini sebagaimana dikutip di
atas, Allah SWT menjelaskan keuntungan takwa yang lain, yaitu (4)
pengampunan atas segala dosa, dan (5) lipatan pahala atas kebaikan yang
pernah dilakukannya.
Dalam
beberapa literatur disebutkan, takwa adalah menjalankan semua perintah
Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Secara lebih praktis, Umar bin
Khattab r.a menjelaskan, takwa adalah kehatian-kehatian dalam setiap
langkah, seperti kehati-hatian pejalan kaki di atas jalan yang penuh
duri. Kaki baru diinjakkan ke tanah ketika ia yakin bahwa jalan yang
diinjak itu benar-benar aman dari tusukan duri. Jika berpedoman pada
pengertian ini, tidak ada satupun orang yang bisa disebut bertakwa
selain nabi. Tapi, bergembiralah, sebab Allah tetap mengampuni kesalahan
Anda berkat ketakwaan Anda meskipun hanya setitik debu. Tidak hanya
itu, Allah melipatgandakan pahala sekecil apapun kebaikan kita,
sebagaimana disebut pada ayat di atas, “..dan barangsiapa yang
bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya
dan akan melipatgandakan pahala baginya (QS. At Thalaq [65]:5).
Nabi SAW pernah bercerita, ada seorang yang hidup sebelum masa
kenabiannya. Orang tersebut hidup berlimpah harta dengan anak cucu yang
amat menyenangkan. Menjelang mati, ia bertanya kepada anak-anaknya,
“Menurut kalian, ayah kalian ini orang yang bagaimana?” Mereka menjawab,
“Orang baik.” Selanjutnya sang ayah mengatakan, “Ketahuilah wahai
anak-anakku, aku lebih tahu tentang diriku. Aku tidak memiliki
sedikitpun kebaikan di sisi Allah. Oleh sebab itu, pasti Allah akan
menyiksaku kelak.” Saya wasiatkan kepada kalian, “Jika suatu saat aku
mati, bakarlah tubuhku lalu tumbuklah arangnya sampai menjadi abu.
Tumbuklah sekali lagi sampai benar-benar lembut. Lalu, pergilah ke laut
dan taburkan semua abu itu ketika angin sangat kencang!”
“Semua anaknya berjanji untuk melakukan wasiat itu. Demi Tuhanku,
mereka benar-benar melakukannya,” kata Nabi SAW. Ketika abu telah
ditebar, Allah SWT berfirman, “Kun (jadilah), maka berdirilah seorang lelaki yang utuh.” Allah kemudian bertanya, “Ay ‘abdii, maa hamalaka ‘ala an fa’alta maa fa’alta? Qaala: makhaafataka / Wahai hamba-Ku, mengapa kamu melakukan semua itu?” Lelaki itu menjawab, “Karena takut kepada (siksa-Mu).” Nabi SAW melanjutkan, “Maka sejak itu, ia mendapat limpahan rahmat Allah.” Nabi SAW mengulang sekali lagi, “Maka sejak itu, ia mendapat limpahan rahmat Allah” (HR. Al Bukhari No. 7.508 dari Abu Said r.a).
Ada satu
lagi kisah hampir sama yang saya yakini dapat menguatkan optimisme
ampunan Allah untuk Anda. Pada zaman Nabi Musa a.s, ada pria di sebuah
kampung yang meninggal dan tak satupun orang bersedia memandikan dan
memakamkannya. Mereka bahkan menyeret dan melemparkannya ke pembuangan
sampah, karena sepanjang hidupnya ia benar-benar “sampah” yang
menyusahkan warga. Allah SWT lalu memberitahu Nabi Musa a.s, “Wahai
Musa, ada orang yang dibuang ke tempat sampah di suatu perkampungan.
Carilah ia sampai ketemu, lalu mandikan, bungkuslah dengan kafan,
shalatilah dan makamkanlah secara terhormat. Ia benar-benar kekasih-Ku.”
Musa
berjalan menyusuri kampung ke kampung untuk mencari “manusia sampah”
itu. Setiap orang memberi julukan yang sama untuk mayit itu: ”si jahat.”
Nabi Musa a.s meminta ditunjukkan di mana si jahat itu dibuang. Setelah
mayat itu ditemukan tergeletak busuk di tumpukan sampah, Musa a.s
berkata, “Wahai Tuhanku, apakah Engkau memerintahkan aku menshalati
orang yang sudah dikenal kejahatannya ini?”
Allah
SWT mengatakan, “Wahai Musa, benar, ia memang orang jahat, tapi tahukah
kamu bahwa ketika menjelang matinya, ia meminta belas kasih-Ku. Apakah
Aku, Tuhan Yang Maha Pengasih tidak mengasihinya? Ketahuilah wahai Musa,
menjelang sakaratul maut, ia berkata lirih, “Wahai Tuhanku, Engkau Maha
Mengetahui gunungan dosa yang telah aku lakukan sepanjang hidupku.
Tapi, saya yakin, Engkau Maha Mengatahui isi hatiku. Aku sejatinya
berontak setiap kali aku melakukan dosa. Wahai Tuhanku, sekalipun penuh
dosa, aku tetap senang dan hormat kepada orang-orang shaleh di
sekitarku. Jika ada dua panggilan, dari orang jahat dan orang shaleh,
pastilah aku mendahulukan orang shaleh.”
“Wahai
Tuhanku, jika Engkau mengampuni aku, pastilah Nabi-Mu tersenyum gembira
karena salah satu umatnya terbebas dari neraka. Sebaliknya,
musuh-musuh-Mu, yaitu Iblis dan setan akan bersedih. Aku yakin, Engkau
lebih menyukai senyuman Nabi-Mu daripada senyum Iblis dan
kawan-kawannya. Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kasihanilah aku.” Maka
Allah SWT berfirman, “Aku, Tuhan Maha Pengasih dan Maha Pengampun. Aku
akan mengasihi dan mengampuni dia, karena ia telah mengakui dosa-dosanya
kepada-Ku. Allah SWT berfirman, “Wahai Musa, segera shalat untuknya
sesuai perintah-Ku. Aku akan mengampuninya atas keberkahan orang yang
menshalatinya.”
Sekali lagi, bergembiralah, dengan kasih-Nya yang tak terbatas, Allah
akan menyelamatkan Anda berbekal ketakwaan meskipun sebesar partikel.
Ibnu Athaillah mengatakan, ‘alima wujudad dla’fi minka faqallala a’daadaha, wa’alima ihtiyaajaka
ilaa fadl-lihi fakatstsara amdaadaha (Allah mengetahui kelemahanmu,
maka Allah meminimalkan (tuntutan) bilangan (ibadahmu). Allah juga
Mengetahui kebutuhanmu akan karunia-Nya, maka Ia melipatgandakan pahala
kebaikanmu)
Dua
kisah di atas juga bisa menampar muka Anda. Orang yang Anda pandang
penuh maksiat, bisa jadi ia kekasih Allah karena setitik debu takwa
dalam hatinya yang tidak diketahui siapapun, dan partikel takwa itulah
yang mendatangkan ampunan Allah kepadanya. Sedangkan Anda yang merasa
lebih suci daripadanya, bisa jadi menurut Allah, ada setitik debu dosa
yang Anda lakukan tanpa Anda sadari dan partikel dosa itulah yang
membuat Allah SWT murka kepada Anda. Mulai saat ini, hapuslah perasaan
bahwa Anda lebih suci daripada orang lain, dan hentikan kebiasaan
memandang sinis pelaku dosa di sekitar Anda, sebab bisa jadi ia lebih
harum di sisi Allah daripada Anda. Wallahu alamu bis shawab.
Referensi: (1) Muhammad bin Abu Bakar Al Usfuri, Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah, Penerbit Mutiara Ilmu Surabaya, Zeid Husein Al Hamid, 1994: cet II: 4-6; (2) Hamka, Tafsir Al Azhar, Panjimas, Jakarta (3) Muhammad ‘Awwaamah, Minas Shihah Al Ahadits Al Qudsiyyah: Mi’ah Hadits Qudsi Ma’a Syarhiha (Seratus Syarah Hadis Qudsi), Noura Books, Jakarta Selatan 2013, p. 176; (4) Ibnu Atha’illah As-Sakandari, Al Hikam, (Al Hikam dan Syarahnya) terj. DA. Pakih Sati LC, Penerbit saufa Yogyakarta, 2015, cet.I
Sumber : http://www.uinsby.ac.id/kolom/id/171/debu-takwa-pembebas-derita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar