Tampilkan postingan dengan label Catatanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatanku. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Juni 2016

Sejarah Tempo




Suatu hari di tahun 1969, sekumpulan anak muda berangan-angan membuat sebuah majalah berita mingguan. Alhasil, terbitlah majalah berita mingguan bernama Ekspres. Di antara para pendiri dan pengelola awal, terdapat nama seperti Goenawan Mohamad, Fikri Jufri, Christianto Wibisono, dan Usamah. Namun, akibat perbedaan prinsip antara jajaran redaksi dan pihak pemilik modal utama, terjadilah perpecahan. Goenawan cs keluar dari Ekspres pada 1970.

Di sudut Jakarta yang lain, seorang Harjoko Trisnadi sedang mengalami masalah. Majalah Djaja, milik Pemerintah Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) , yang dikelolanya sejak 1962 macet terbit. Menghadapi kondisi tersebut, karyawan Djaja menulis surat kepada Gubernur DKI saat itu, Ali Sadikin, minta agar Djaja diswastakan dan dikelola Yayasan Jaya Raya-sebuah yayasan yang berada di bawah Pemerintah DKI. Lalu terjadi rembugan tripartite antara Yayasan Jaya Raya-yang dipimpin Ir. Ciputra-orang-orang bekas majalah Ekspres, dan orang-orang bekas majalah Djaja. Disepakatilah berdirinya majalah Tempo di bawah PT. Grafiti Pers sebagai penerbitnya.

Kenapa nama Tempo? Menurut Goenawan -Pemimpin Redaksi saat itu- karena kata ini mudah diucapkan, terutama oleh para pengecer. Cocok pula dengan sifat sebuah media berkala yang jarak terbitnya longgar, yakni mingguan. Mungkin juga karena dekat dengan nama majalah berita terbitan Amerika Serikat, Time-sekaligus sambil berolok-olok-yang sudah terkenal. Edisi perdana majalah Tempo terbit pada 6 Maret 1971.

Dengan rata-rata umur pengelola yang masih 20-an, Tempo tampil beda dan diterima masyarakat. Dengan mengedepakan peliputan berita yang jujur dan berimbang, serta tulisan yang disajikan dalam prosa yang menarik dan jenaka, Tempo diterima masyarakat.

Pada tahun 1982, untuk pertama kalinya Tempo dibredel. Tempo dianggap terlalu tajam mengkritik rezim Orde Baru dan kendaraan politiknya, Golkar. Saat itu tengah dilangsungkan kampanye dan prosesi Pemilihan Umum. Tapi akhirnya Tempo diperbolehkan terbit kembali setelah menandatangani semacam "janji" di atas kertas segel dengan Ali Moertopo, Menteri Penerangan saat itu ( zaman Soeharto ada Departemen Penerangan yang fungsinya, antara lain mengontrol pers).

Makin sempurna mekanisme internal keredaksian Tempo, makin mengental semangat jurnalisme investigasinya. Maka makin tajam pula daya kritik Tempo terhadap pemerintahan Soeharto yang sudah sedemikian melumut. Puncaknya, pada 21 Juni 1994. Untuk kedua kalinya Tempo dibredel oleh pemerintah, melalui Menteri Penerangan Harmoko. Tempo dinilai terlalu keras mengkritik Habibie dan Soeharto ihwal pembelian kapal kapal bekas dari Jerman Timur.

Selepas Soeharto lengser pada Mei 1998, mereka yang pernah bekerja di Tempo -dan tercerai berai akibat bredel- berembuk ulang. Mereka bicara ihwal perlu-tidaknya majalah Tempo terbit kembali. Hasilnya, Tempo harus terbit kembali. Maka, sejak 12 Oktober 1998, majalah Tempo hadir kembali.

Untuk meningkatkan skala dan kemampuan penetrasi ke bisnis dunia media, maka pada tahun 2001, PT. Arsa Raya Perdana go public dan mengubah namanya menjadi PT Tempo Inti Media Tbk. (Perseroan) sebagai penerbit majalah Tempo -yang baru. Dana dari hasil go public dipakai untuk menerbitkan Koran Tempo yang berkompetisi di media harian.

Saat ini, produk-produk Tempo terus muncul dan memperkaya industry informasi korporat dari berbagai bidang, yaitu penerbitan ( majalah Tempo, Koran Tempo, Koran Tempo Makassar, Tempo English, Travelounge, Komunika, dan Aha! Aku Tahu), Digital (Tempo.co, Data dan Riset (Pusat Data dan Analisa Tempo), Percetakan (Temprint), Penyiaran (Tempo TV dan Tempo Channel), Industri Kreatif (Matair Rumah Kreatif), Event Organizer (Impressario dan Tempo Komunitas), Perdagangan (Temprint Inti Niaga), dan Building Management (Temprint Graha Delapan) 
Sumber : https://korporat.tempo.co/tentang/sejarah

Selasa, 14 Juni 2016

FEATURE: Tragedi Mei 1998, Mereka yang Setia Merawat Ingatan

TEMPO.COJakarta - Abdul Rahman tak pernah tahu di mana letak kubur adiknya, Iwan Santoso di pemakaman masal korban tragedi Mei 1998, Taman Pemakaman Umum Pondok Ranggon, Jakarta Timur. Tapi tiap tahun Abdul selalu menyambangi makam itu.

Seperti yang dilakukannya pada Sabtu, 14 Mei 2016 kemarin. Rahman menatap barisan makam yang ada di depannya. Hampir seratusan makam bernisan tanpa nama. Namun Rahman tetap khusuk berdoa.

Kenangan Rahman melayang pada 14 Mei 1998 silam. Sang adik, Iwan Santoso yang saat itu berusia 20 tahun, ikut menjadi korban saat Yogya Plaza (saat ini Citra Mall Klender), Jakarta Timur terbakar. Mal itu jadi sasaran massa yang menyerbu masuk untuk mengambil barang-barang di dalamnya.

Namun kondisi berubah menjadi horor setelah api melalap mal tersebut. Sekitar 400 orang terjebak di dalam mal itu. Mereka kemudian ditemukan tewas dengan tubuh terpanggang.


Para korban yang tak dikenali identitasnya kemudian dimakamkan secara massal di Pondok Ranggon. Nisan mereka hanya bertuliskan Korban Tragedi 13-15 Mei 1998 Jakarta.

Meski tak pernah mengetahui di mana kubur Iwan. Abdul Rahman termasuk yang setia mendatangi pemakaman ini tiap peringatan Mei tiba. Namun pria 58 tahun itu mengakui, peringatan tahun ini tak seperti tahun-tahun sebelumnya. "Jumlah kami tak sebanyak dulu," ujar ia.

Ia mengenang dulu para peziarah kerap memenuhi pekuburan itu. Setidaknya ada 200-an orang yang berziarah tiap Mei. Tapi kemarin, hanya 32 orang yang datang. "Sekarang bisa dihitung paling banyak keluarga korban 20 orang," kata Abdul Rahman.

Setelah peristiwa kelam 1998 itu Abdul bercerita para keluarga korban membentuk Tim Relawan Kemanusiaan. Mereka lalu bersama-sama berjuang meminta pemerintah mengungkap kebenaran kasus ini. Mereka juga mendirikan koperasi untuk memulihkan perekonomian setelah ditinggalkan keluarga yang menjadi tulang punggung.

Setelah 18 tahun peristiwa itu, jumlah keluarga korban yang bertahan di perkumpulan itu semakin berkurang. "Karena pada putus asa. Saya sendiri juga sebenarnya gak banyak menuntut lagi," kata Rahman. Ia menyatakan bahwa orang-orang yang meninggal dalam tragedi itu adalah korban politik. Ia sendiri baru menyadarinya beberapa tahun kemudian, setelah terlibat dengan komunitas dan memahami sejarah kelam itu.

Permintaan korban sederhana. Mereka meminta pemerintah menjelaskan soal peristiwa itu dengan terang. Mereka juga ingin memperbaiki nama baik korban yang meninggal. Sebab, warga yang wafat itu diberi cap sebagai penjarah.

Sejak era presiden BJ Habibie, keluarga korban terus mendesak agar informasi tentang kasus ini diusut. Menurut istri Rahman, Herwin Wahyuningsih, Habibie sempat membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) 1998. Namun masyarakat belum puas.

Setiap presiden berganti, mereka menuntut hal serupa. Termasuk meminta pemerintah menghilangkan stigma "penjarah" bagi korban jiwa. "Tetapi kami pernah demo di istana, digebuk," kata Rahman. Tak cuma kepada presiden, kata Rahman, warga juga menuntut ke Dewan Perwakilan Rakyat.

Ruyati Darwin, 70 tahun, ibu dari korban Eten Karyana, mengatakan peringatan tragedi 98 tiap tahun ini bukan menggali luka. "Tapi bisa menjadikan semangat perjuangan bagi kami," katanya. Sayangnya, kata dia, pemerintah belum merespons para keluarga korban. "Padahal Presiden Jokowi sudah berjanji menyelesaikan pelanggaran HAM, termasuk Mei 98."

Ruyati mengatakan kegiatan rutin ini juga berguna untuk mengingat para korban yang meninggal. Wanita yang tinggal di Kelurahan Penggilingan, Jakarta Timur ini mengetahui anaknya ikut terbakar di mal lewat siaran televisi. "Dompet dan KTP-nya yang tidak terbakar ditemukan," katanya.

Ketika suami Ruyati, Darwin, mencari mayat Eten, kemeja menjadi penanda. "Dipakainya baju kesayangan bapaknya," kata Ruyati. Baju lengan panjang putih garis-garis kecil itu juga sangat disukai Eten.

REZKI ALVIONITASARI

Sumber: https://m.tempo.co/read/news/2016/05/15/083771029/feature-tragedi-mei-1998-mereka-yang-setia-merawat-ingatan

FEATURE: Tragedi Mei 1998, Kisah Penyintas dari Yogya Plaza

TEMPO.CO, Jakarta - Hasanudin masih mengenang kejadian 18 tahun silam. Suatu hari, seusai beres ujian nasional, ia yang bosan di sekolahnya SMP PGRI 27 Jakarta Timur mendengar adanya tawuran. Hasanudin yang kerap dipanggil Dede pun bergegas menuju kawasan itu bersama 30-an kawannya.

Di kawasan Klender itu, Dede melihat  sekelompok siswa Sekolah Teknik Menengah (STM) tengah bentrok dengan sekumpulan siswa SMA. "Tak lama kemudian, ada suara provokasi, 'serbu saja Yogya, warga pada ke situ semua'," ujar Dede yang ditemui di rumahnya Kampung Jati Selatan, Jatinegara Kaum, Jakarta Timur, Sabtu 14 Mei 2016.

Setelah mendengar ajakan menjarah itu, warga berbondong-bondong masuk Yogya Plaza. Saat itu bangunan berlantai lima yang kini bernama Citra Mall Klender  merupakan pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta Timur. Berbagai perlengkapan dan segala macam kebutuhan ada di sini. "Ada bioskop dan diskotek juga di lantai atas," kata Dede.

Dede yang saat itu berusia 15 tahun kaget setibanya di Yogya Plaza sekitar pukul 15.00 WIB. "Orang ramai-ramai mengambil barang. Ada yang memakai troli, ada yang naik-turun membawa kulkas dan televisi."
Dede kemudian ikut masuk dan melihat pemandangan yang mencengangkan. Orang tua, anak muda, perempuan dan lelaki masuk dan mengambil semua barang yang ada di dalam pusat perbelanjaan itu. Hampir semua kaca dinding pecah. "Mereka ngak peduli mau berdarah-darah masih ngambil barang," kata Dede.

Ia pun ikut mengambil kemeja lengan panjang yang berserakan.
Sambil mengamati ratusan orang yang lalu-lalang di plaza itu, Dede naik ke lantai tiga, di bagian supermarket. Ia tinggal berdua, temannya yang lain berpencar di gedung itu.

Setelah dua jam lebih berada di sana, Dede mendengar suara orang-orang berteriak ada asap. Ia juga mulai menyadari kebakaran, ruangan jadi gelap. "Orang-orang kalang kabut, ramai teriak minta tolong," ucap dia.

Dede sulit bergerak. Nafasnya tersengal-sengal. Sambil berteriak minta tolong, ia berdoa dalam hati. Ia bersyukur sempat minum es teh sebelum masuk Yogya Plaza. Mungkin itu yang membuatnya kuat di tengah asap dan api yang siap menjilat siapa saja di dalam bangunan itu.

Perlahan sandal jepit yang dikenakan Dede meleleh. Panas membekap seluruh ruangan di dalam sana. Beberapa orang dia lihat sudah meregang nyawa. Dede mengambil inisiatif menaiki punggung-punggung mayat yang sudah rebah itu."Saya mulai panik, stres. Takut kalau-kalau ada api," katanya.

Entah siapa, di tengah kepanikannya itu ada tangan yang menarik lengan Dede. Seperti dituntun, ia mengikuti orang itu hingga terlihat cahaya kecil di depan, dan terlihatlah jendela.

Dede hingga kini tak tahu siapa yang menyelamatkannya itu. "Saya juga ngak kenalan karena ngak keliatan muka, dia ngak ngomong juga," ucap dia. "Kalau ketemu orangnya, saya sujud."

Setiba di jendela, Dede mendapati banyak orang berusaha turun. Ada yang berani loncat, namun menderita karena kakinya patah atau tertusuk besi taman.

Tetangga Dede yang menyemut di bawah menyiapkan pertolongan. "Abang saya juga ada di sana dan mengambil tali jemuran agar saya turun," katanya. Dede bukan orang pertama menggunakan tali itu, melainkan enam orang lain. Ia baru turun bersama 'rombongan' kedua.

Secara berturut-turut ada dua orang, Dede, lalu seorang lagi memeluk tali itu. "Tetapi copot di tengah-tengah, talinya lepas. Kaki saya patah ditibanin orang," ujarnya. Dua orang yang ditindih oleh Dede meninggal.

Dede dibawa ke Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta Timur. Di sana ia juga menemui banyak korban kebakaran Yogya Plaza. "Ramai, ada yang lukanya parah, ada yang menangis," ujarnya. Tangan kiri dekat sikunya mendapat sepuluh jahitan. Tulang pahanya dipasangi pen. Selama dua bulan Dede berada di rumah sakit. Biaya berobatnya memakai uang keluarga, senilai Rp 5 juta.

Dede butuh waktu untuk melepaskan bayang-bayang kerusuhan itu. Ia kemudian aktif di Ikatan Orang Hilang Indonesia (Ikohi) dan sempat menjadi penjaga kantin di Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). "Sekarang trauma saya sudah hilang. Saya lawan dengan cara main ke rumah teman, ketawa-ketawa," katanya.

Dede beruntung selamat dari peristiwa kelam yang menewaskan ratusan orang itu. Seorang tetangganya, Agung Tri Purnawan salah satu yang hilang dari peristiwa itu. Murni Aryati, ibu Agung, hingga kini tak tahu di mana letak jasad anaknya dimakamkan jika benar ia tewas dalam peristiwa itu.

Tiap tahun Murni tak pernah lupa berziarah ke makam massal tragedi Mei 1998 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur. Selama ini Murni sering membawakan makanan untuk Dede yang sebaya dengan sang anak."Bu Murni suka bawain makanan, saya makan sambil diliatin," ujarnya.

REZKI ALVIONITASARI

sumber :
https://m.tempo.co/read/news/2016/05/15/083771065/feature-tragedi-mei-1998-kisah-penyintas-dari-yogya-plaza

Munaslub Golkar, Beredar Bukti Pembayaran ID Card

TEMPO.CONusa Dua - Di tengah pelaksanaan Musyawarah Nasional Luar Biasa Partai Golongan Karya di Nusa Dua, Bali, beredar surat bukti pembayaran uang dari seseorang bernama Netty Marliza kepada panitia. Netty diketahui sebagai istri Ade Komarudin, calon ketua umum yang akhirnya mengundurkan diri di putaran kedua.

Surat ini beredar secara berantai dari grup telepon seluler jurnalis dan politikus Golkar menjelang pemilihan ketua umum pada Selasa dinihari, 17 Mei 2016.

Surat tersebut berbunyi, "Telah diterima uang sebesar Rp 4 juta dari Ibu Netty Marliza untuk pembuatan id cardMunaslub Partai Golkar 2016. Uang diberikan atas dasar permintaan panitia Munaslub Partai Golkar 2016."

Di bagian bawah surat dibubuhkan meterai Rp 6.000 dengan tanda tangan atas nama Imam. Tertulis pula nomor telepon seluler 0818872035.
 
Panitia Pelaksana Munaslub Golkar Meutya Hafid mengatakan tidak tahu-menahu soal surat tersebut. Dalam aturan organizing committee pun tidak ada aturan tersebut. "Tidak ada pembayaran," ucapnya di Nusa Dua Convention Center, Bali, Selasa, 17 Mei 2016.

Meutya menuturkan tidak mengetahui siapakah pemilik nama Imam tersebut. "Panitia jumlahnya ratusan, saya tidak hafal," ujarnya.

Adapun Ade Komarudin belum bisa dikonfirmasi terkait beredarnya surat tersebut.

AHMAD FAIZ

Catatan koreksi:  Berita ini telah diralat pada Selasa 17 Mei 2016, pukul 15.05 karena terjadi kesalahan pada penyebutan status Netty Marliza yang sebelumnya disebut sebagai istri Setya Novanto. Mohon maaf atas kekeliruan ini.

pesan sang imam istiqlal

Zunus, NU Online | Kamis, 28 April 2016 11:54
Ciputat, NU Online
Tak banyak yang tahu bahwa Prof Dr KH. Ali Mustafa Yaq'ub belum lama ini berulang tahun. Pria yang baru saja menyelesaikan tugasnya sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal ini, terhitung tanggal 2 Maret ini genap berusia 64 tahun. Dengan kata lain, beliau telah melampaui usia Nabi. Hal yang tentu patut disyukuri tidak hanya oleh beliau dan para santrinya, tapi juga umat Islam Indonesia yang diberi anugerah oleh Allah salah satu putra terbaik bangsa ini. Namun, hari ini, Kamis (28/4) Allah Swt memanggilnya. Ini jelas kehilangan besar untuk bangsa dan umat Islam Indonesia.
Selama 64 tahun perjalanan hidup beliau, banyak yang sudah dicapai dan diraihnya. Pakar hadits terkemuka Indonesia ini telah banyak meninggalkan jejak dan tinta emas. Pak Kiai–begitu para santrinya biasa memanggil–merintis karier keulamaannya sejak menjadi pengasuh Pesantren al-Hamidiyyah Depok, lalu mendirikan Pesantren Luhur Ilmu Hadits Darussunnah di Ciputat, Tangerang Selatan.
Nama beliau mulai dikenal publik setelah menjadi kolumnis tetap di Harian Pelita dan Majalah Amanah. Melalui tulisannya yang tajam dan kritis dalam merespons permasalahan umat, terutama dengan sudut pandang hadits, nama Pak Kiai semakin menarik perhatian khalayak.
Keulamaan dan kecendekiaan beliau terus menyita perhatian publik ketika beliau ditunjuk sebagai salah satu anggota Komisi Fatwa MUI Pusat. Puncaknya saat beliau diangkat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal oleh Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni. Posisi beliau sebagai imam besar ini pulalah yang mengantarkan beliau untuk mendampingi Presiden Amerika Serikat Barack Obama saat berkunjung ke Masjid Istiqlal beberapa tahun lalu.
Ada yang unik dari sosok beliau. Tiap kali menempati amanah tertentu, beliau selalu disukai oleh media. Singkatnya, beliau dapat dikatakan sebagai media darling. Tak heran bila sosoknya selain pikiran-pikiran segarnya, selalu menghiasi media massa, baik cetak, elektronik, maupun media online. Beliau juga di antara sedikit ulama yang rutin diundang dalam acara Indonesia Lawyers Club di salah satu televisi nasional.
Ternyata tugas dan amanah yang beliau emban di ruang publik, tak serta-merta melupakan tugas beliau sebagai pengasuh International Institute for Hadith Sciences Darussunnah, yang mempunyai cabang di Malaysia. Terbukti mahasantri dari pesantren yang diasuhnya selalu langganan menjadi lulusan terbaik di kampus-kampus tempat mereka berkuliah, seperti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Capaian para santri beliau ini tak lepas dari “tangan dingin” yang selalu mengajarkan prinsip hidup yang jadi modal penting santri dalam hidup di masyarakat. Berikut lima hal yang selalu diajarkan beliau pada para santrinya:
1. Jangan Mati Sebelum Punya Buku
Ada pesan Pak Kiai yang selalu disampaikan dalam berbagai kesempatan di hadapan para santri. Pesan itu sangat melekat dan seperti afirmasi positif yang beliau tanamkan di benak para santri.
Wa la tamuttunna illa wa antum katibun. Jangan mati kecuali sudah bisa menulis buku. Pesan ini seperti sugesti yang terus beliau suntikkan pada para santri. Tak heran bila banyak santri beliau yang kemudian mempunyai karya berupa buku yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit terkemuka nasional dan bahkan internasional. Ini tak lain karena selain berpesan, beliau juga mencontohkan dengan terus berkarya. Tiap tahun selalu saja ada karya beliau yang diluncurkan ke publik.
2. Selalu Shalat Berjamaah
Pesan ini juga selalu beliau tekankan pada para santri. Bahkan, pada suatu kesempatan beliau secara berseloroh akan membakar kamar-kamar santri yang penghuninya tidak shalat berjamaah. Apa yang beliau sampaikan itu dengan mendasarkannya pada hadits Nabi yang akan membakar rumah-rumah sahabat yang tidak shalat berjamaah.
Beliau sangat memperhatikan hal ini. Bahkan, untuk penentuan lulusan terbaik di pesantren yang diasuhnya, beliau tidak hanya memperhatikan aspek akademiknya, tetapi juga memperhatikan aspek spiritualnya, termasuk shalat berjamaahnya.
3. Bermanfaat untuk Umat
Pak Kiai selalu menekan pada para santri agar jadi orang yang berilmu, tapi yang tidak di menara gading. Ilmunya yang hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri. Masyarakat sekitar tak ada yang merasakan kemanfaatan dari ilmunya. Pak Kiai selalu menasihati para santri agar tak meniru orang-orang yang mencari ilmu untuk mendapat gelar dan pekerjaan.
Karena, menurut beliau, ilmu sejatinya untuk dimanfaatkan, terutama untuk orang-orang di sekeliling. Pada banyak kesempatan di pengajian santri, beliau selalu mengutip hadis: “Jika ada satu orang saja yang mendapat hidayah gara-gara dirimu, itu lebih baik daripada onta yang paling mahal harganya,” (HR Bukhari).
4. Kemampuan Berbahasa Asing
Kemampuan berbahasa asing tak pelak menjadi prasyarat penting dalam memenangkan percaturan dalam berbagai bidang dewasa ini. Pesan tersebut seperti menjadi isyarat penting terkait peran umat Islam Indonesia di kancah internasional, mengingat minimnya ulama dan cendekiawan Muslim kita yang mampu berkiprah secara internasional, bukan karena tidak punya kualitas, tapi lebih karena terkendala persoalan bahasa. Pak Kiai yang sering berdakwah ke banyak negara, termasuk ke Amerika Serikat, menekankan pentingnya penguasaan bahasa asing ini.
5. Ikhlas dalam Mengabdi dan Berbuat
Soal keikhlasan dalam mengabdi dan berbuat, tidak hanya Pak Kiai pesankan melalui nasihat dan petuah, tapi beliau praktikkan langsung. Ini dibuktikkan dengan pesantrennya yang selama sepuluhan tahun lebih menggratiskan biaya pendidikan. Bahkan, beliau terkadang juga membiayai makan sehari-hari para santri. Beliau pun tak pernah membebani santri dengan banyak sumbangan untuk pembangunan dan pengembangan pesantren. (Moch Syarif Hidayatullah)
sumber : nu.or.id\ nu online

contoh tulisan feature news

TEMPO.CO, Jakarta - Ruang bola Panti Surya Hotel Aryaduta, Jakarta, masih riuh saat Suparno berjalan keluar dari ruangan. Pada usianya yang sudah 76 tahun, dia masih tampak bugar. Setelan batik dengan warna dominan merah yang ia kenakan tampak kontras dengan topi bisbol merek Fila yang membenamkan kepalanya. Tangannya mencekam tas plastik berisi setumpuk berkas.

"Tadi yang duduk di samping saya, yang pakai baju preman, sepertinya orang TNI. Mau saya suruh dia baca lengkap berkas saya ini," kata Suparno kepada Tempo di sela-sela Simposium Nasional bertajuk "Membedah Tragedi 1965, Pendekatan Kesejarahan", Senin, 18 April 2016.

Ia mengaku memiliki salinan dokumen berisi daftar korban operasi militer di Jawa Tengah tak lama setelah aksi Gerakan 30 September 1965. "Seingat saya jumlahnya (korban) mencapai 400-an ribu. Itu data yang tak boleh hilang. Semoga saya bawa," ujarnya.

Suparno hadir sebagai salah satu saksi sekaligus korban tragedi 1965. Dia bukan anggota atau simpatisan Partai Komunis Indonesia, melainkan seorang tamtama Batalyon 530 Brigade III Brawijaya, Surabaya. "Tanggal 30 September 1965, posisi batalyon saya di Monas. Perintah yang saya terima, adalah ikut serta ulang tahun ABRI," ujar Suparno.




Dia berkumpul bersama anggota batalyon di Markas Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), di seberang Monas, pada 1 Oktober 1965. "Di sana ada Panglima Kostrad Mayor Jenderal Soeharto," tuturnya.

Batalyon 530, kata Suparno, juga bertemu Menteri Dalam Negeri kala itu, Basuki Rahmat. "Kalian Batalyon 530 tak salah, kalian tak tahu apa-apa," kata Suparno menirukan ucapan Basuki.

Namun, sejak itu pengalaman buruknya dimulai. “Dua bulan setelahnya, ada surat cuti, dan ketika keluar Batalyon, saya sempat dibuntuti lima orang bersenapan laras panjang. Saya dikepung satu kompi,” ujarnya. Dia pun diringkus dan dibawa Detasemen Polisi Militer di Madiun. "Saya diperiksa Komandan Denpom."
 
Dalam interogasi, sang komandan mencecarnya soal peristiwa pada 30 September hingga 1 Oktober 50 tahun lalu itu. "Ada 25 pertanyaan. Saya dituding membunuh perwira saya, berniat menggantikan posisinya."

Nada Suparno meninggi. “Bayangkan, saya kopral dua, tamatan SD. Mana ada pikiran menggantikan perwira? Ibarat naik 11 anak tangga sekaligus," katanya.

Jawaban Suparno seperti membentur tembok. Ia kemudian dikurung di Rumah Tahanan Militer Madiun hingga dilepas tahun 1970. “Lima tahun saya ditahan, tidak pernah diadili. Saya salah apa? Saya ke Jakarta pada 30 September atas perintah Pangkostrad,” ujarnya. "Saya prajurit! Saya menjalankan apapun perintah atasan saya."

Bukan hanya terampas pekerjaan dan kebebasannya, Suparno sampai kehilangan istrinya. "Bahkan, istri pun saya berikan. Saya nikahkan dia dengan orang lain," katanya.

Cerita Suparno hanya satu di antara kisah korban yang hadir dalam Simposium Nasional Tragedi 1965. Acara yang diprakarsai Kementerian Politik, Hukum, dan Keamanan bersama sejumlah lembaga negara itu diharapkan bisa membuka pintu penyelesaian polemik dan pelanggaran HAM di masa lampau. Ini merupakan acara pertama mengenai tragedi 1965 yang mempertemukan korban dan pelaku, yang digagas oleh pemerintah Indonesia.

"Tak muluk, saya ingin hak saya dikembalikan," ujar Suparno. "Saat itu saya ingin berjuang di institusi militer, tapi saya dipecat tanpa hormat."

YOHANES PASKALIS

sumber : tempo.co

Pembelaan Mahasiswa terhadap kasus Ronny

Kembalikan Ronny Setiawan!
Salam Perjuangan, Hidup Mahasiswa!!!
Hari ini kita dikejutkan dengan kabar duka dari Jakarta. Keadilan di bumi pertiwi semakin sekarat. Perjuangan saudara-saudara kita dari UNJ nampaknya mengusik para penjahat. Suara dibungkam yang akhirnya berujung pada dikeluarkanya Ronny Setiawan (Ketua BEM UNJ) dari kampusnya.
Demi perjuangan Ronny Setiawan, ayo kita sampaikan kepada Rektor UNJ bahwa Ia telah mengambil langkah yang salah!
Sms ke Rektor UNJ +628161863927 dengan konten sebagai berikut:
Kami mahasiswa dari seluruh Indonesia meminta Bapak Prof. Dr. H. Djaali agar bisa memutuskan perkara Ronny Setiawan dan yang lain dengan rasional dan seadil-adilnya. Cabut SK pemberhentian Ronny Setiawan atau UNJ akan menjadi saksi tumpahnya mahasiswa dari Seluruh Indonesia untuk menuntut keadilan!
Kebenaran tidak akan pernah mati, dan orang yang memperjuangkannya akan tetap ada dan berlipat ganda. Kami tidak akan diam begitu saja.
Salam hormat kami, mahasiswa seluruh Indonesia

Surat Terbuka Fahri Hamzah, Wakil Ketua DRI RI, kepada Rektor UNJ

Surat Terbuka Fahri Hamzah, Wakil Ketua DPR RI, kepada Rektor UNJ
--------------------------------------

Saya baru menulis soal Jiwa Reformasi dan Demokrasi Kampus. Tiba2 ada kabar rektor yg pecat mahasiswa karena kritis. Satu kata: LAWAN! Dia kira dirinya siapa itu rektor, pakai UU ITE pecat mahasiswa.

Rektor UNJ yang terhormat, Anda harus bangga punya mahasiswa yang kritis, karena itu pertanda nurani bangsa kita masih hidup. Mungkin Pak Rektor tidak pernah jadi aktivis sehingga nurani tidak pernah diasah krisis. Atau Pak rektor tidak pernah keluar dari dalam laboratorium atau perpustakaan kepada dunia nyata yang dinamis.

Menyesallah Pak rektor karena Anda tidak pernah menjadi demonstran seperti mahasiswa yang Anda pecat. Menyesallah Pak rektor karena Anda bercokol lebih sebagai pejabat daripada penjaga kebebasan akademis.

Tahukah Anda arti kebebasan akademik wahai Pak rektor? Dunia akademik yang Anda pimpin harus dibebaskan dari tekanan apapun selain ilmu pengetahuan. Sehingga dalam kampus, tempat kebebasan berpikir kita semai, tidak boleh ada simbol kekuasaan

Dan kalau Rektor telah berubah menjadi simbol kekuasaan maka Rektor pun layak ditumbangkan!

Tapi Pak Rektor yang terhormat. Pagi ini, seperti pagi di setiap musim hujan ketika Jakarta dan sebagian kota terancam banjir, Anda telah membantu para aktivis mahasiswa bersemi bersama bunga, pertanda awal musim kita

Terima kasih Pak Rektor, Anda mengingatkan mereka ketika politik atau kekuasaan telah bersenyawa dengan para Ilmuan. Ketika kebenaran telah dirampas dari ilmu pengetahuan. Dan ketika semua menjadi kelam, karena kebenaran tenggelam bersama dominasi kekuasaan. Mungkin ini pertanda yang berulang dalam setiap perubahan besar. Bahwa kebenaran mesti diperjuangkan oleh keberanian!

Dan ketika semua telah menjadi mapan, kita hanya punya satu pilihan yaitu hidup bersama dengan orang-orang yang dalam hatinya penuh keberanian.

Dalam sejarah Indonesia, inilah yang muncul dalam setiap reformasi dan kemerdekaan. Dan keberanian itu telah muncul bersama pemuda dan mahasiswa.

Seperti hari ini dan hari-hari mendatang. Adalah hari-hari perjuangan!

Selamat berjuang teman2 mahasiswa. Tiada kata jera dalam perjuangan!

Allahuakbar, Merdeka!

----------------------

Kronologi lengkap, klik
https://www.change.org/p/rektor-unj-cabut-sk-do-rektor-unj-selamat-ronny-setiawan

Baca, kemudian dukung.

Ketika kamu baik dan mengganggu kepentingan petinggi, dengan mudah dirimu dibuat 'mati', dan hal ini akan terus terjadi selama kalian yang tau kebenaran hanya menjadi penonton tanpa ikut dalam pergerakan.

Sumber: Human Development