Selasa, 14 Juni 2016

FEATURE: Tragedi Mei 1998, Kisah Penyintas dari Yogya Plaza

TEMPO.CO, Jakarta - Hasanudin masih mengenang kejadian 18 tahun silam. Suatu hari, seusai beres ujian nasional, ia yang bosan di sekolahnya SMP PGRI 27 Jakarta Timur mendengar adanya tawuran. Hasanudin yang kerap dipanggil Dede pun bergegas menuju kawasan itu bersama 30-an kawannya.

Di kawasan Klender itu, Dede melihat  sekelompok siswa Sekolah Teknik Menengah (STM) tengah bentrok dengan sekumpulan siswa SMA. "Tak lama kemudian, ada suara provokasi, 'serbu saja Yogya, warga pada ke situ semua'," ujar Dede yang ditemui di rumahnya Kampung Jati Selatan, Jatinegara Kaum, Jakarta Timur, Sabtu 14 Mei 2016.

Setelah mendengar ajakan menjarah itu, warga berbondong-bondong masuk Yogya Plaza. Saat itu bangunan berlantai lima yang kini bernama Citra Mall Klender  merupakan pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta Timur. Berbagai perlengkapan dan segala macam kebutuhan ada di sini. "Ada bioskop dan diskotek juga di lantai atas," kata Dede.

Dede yang saat itu berusia 15 tahun kaget setibanya di Yogya Plaza sekitar pukul 15.00 WIB. "Orang ramai-ramai mengambil barang. Ada yang memakai troli, ada yang naik-turun membawa kulkas dan televisi."
Dede kemudian ikut masuk dan melihat pemandangan yang mencengangkan. Orang tua, anak muda, perempuan dan lelaki masuk dan mengambil semua barang yang ada di dalam pusat perbelanjaan itu. Hampir semua kaca dinding pecah. "Mereka ngak peduli mau berdarah-darah masih ngambil barang," kata Dede.

Ia pun ikut mengambil kemeja lengan panjang yang berserakan.
Sambil mengamati ratusan orang yang lalu-lalang di plaza itu, Dede naik ke lantai tiga, di bagian supermarket. Ia tinggal berdua, temannya yang lain berpencar di gedung itu.

Setelah dua jam lebih berada di sana, Dede mendengar suara orang-orang berteriak ada asap. Ia juga mulai menyadari kebakaran, ruangan jadi gelap. "Orang-orang kalang kabut, ramai teriak minta tolong," ucap dia.

Dede sulit bergerak. Nafasnya tersengal-sengal. Sambil berteriak minta tolong, ia berdoa dalam hati. Ia bersyukur sempat minum es teh sebelum masuk Yogya Plaza. Mungkin itu yang membuatnya kuat di tengah asap dan api yang siap menjilat siapa saja di dalam bangunan itu.

Perlahan sandal jepit yang dikenakan Dede meleleh. Panas membekap seluruh ruangan di dalam sana. Beberapa orang dia lihat sudah meregang nyawa. Dede mengambil inisiatif menaiki punggung-punggung mayat yang sudah rebah itu."Saya mulai panik, stres. Takut kalau-kalau ada api," katanya.

Entah siapa, di tengah kepanikannya itu ada tangan yang menarik lengan Dede. Seperti dituntun, ia mengikuti orang itu hingga terlihat cahaya kecil di depan, dan terlihatlah jendela.

Dede hingga kini tak tahu siapa yang menyelamatkannya itu. "Saya juga ngak kenalan karena ngak keliatan muka, dia ngak ngomong juga," ucap dia. "Kalau ketemu orangnya, saya sujud."

Setiba di jendela, Dede mendapati banyak orang berusaha turun. Ada yang berani loncat, namun menderita karena kakinya patah atau tertusuk besi taman.

Tetangga Dede yang menyemut di bawah menyiapkan pertolongan. "Abang saya juga ada di sana dan mengambil tali jemuran agar saya turun," katanya. Dede bukan orang pertama menggunakan tali itu, melainkan enam orang lain. Ia baru turun bersama 'rombongan' kedua.

Secara berturut-turut ada dua orang, Dede, lalu seorang lagi memeluk tali itu. "Tetapi copot di tengah-tengah, talinya lepas. Kaki saya patah ditibanin orang," ujarnya. Dua orang yang ditindih oleh Dede meninggal.

Dede dibawa ke Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta Timur. Di sana ia juga menemui banyak korban kebakaran Yogya Plaza. "Ramai, ada yang lukanya parah, ada yang menangis," ujarnya. Tangan kiri dekat sikunya mendapat sepuluh jahitan. Tulang pahanya dipasangi pen. Selama dua bulan Dede berada di rumah sakit. Biaya berobatnya memakai uang keluarga, senilai Rp 5 juta.

Dede butuh waktu untuk melepaskan bayang-bayang kerusuhan itu. Ia kemudian aktif di Ikatan Orang Hilang Indonesia (Ikohi) dan sempat menjadi penjaga kantin di Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). "Sekarang trauma saya sudah hilang. Saya lawan dengan cara main ke rumah teman, ketawa-ketawa," katanya.

Dede beruntung selamat dari peristiwa kelam yang menewaskan ratusan orang itu. Seorang tetangganya, Agung Tri Purnawan salah satu yang hilang dari peristiwa itu. Murni Aryati, ibu Agung, hingga kini tak tahu di mana letak jasad anaknya dimakamkan jika benar ia tewas dalam peristiwa itu.

Tiap tahun Murni tak pernah lupa berziarah ke makam massal tragedi Mei 1998 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur. Selama ini Murni sering membawakan makanan untuk Dede yang sebaya dengan sang anak."Bu Murni suka bawain makanan, saya makan sambil diliatin," ujarnya.

REZKI ALVIONITASARI

sumber :
https://m.tempo.co/read/news/2016/05/15/083771065/feature-tragedi-mei-1998-kisah-penyintas-dari-yogya-plaza

Munaslub Golkar, Beredar Bukti Pembayaran ID Card

TEMPO.CONusa Dua - Di tengah pelaksanaan Musyawarah Nasional Luar Biasa Partai Golongan Karya di Nusa Dua, Bali, beredar surat bukti pembayaran uang dari seseorang bernama Netty Marliza kepada panitia. Netty diketahui sebagai istri Ade Komarudin, calon ketua umum yang akhirnya mengundurkan diri di putaran kedua.

Surat ini beredar secara berantai dari grup telepon seluler jurnalis dan politikus Golkar menjelang pemilihan ketua umum pada Selasa dinihari, 17 Mei 2016.

Surat tersebut berbunyi, "Telah diterima uang sebesar Rp 4 juta dari Ibu Netty Marliza untuk pembuatan id cardMunaslub Partai Golkar 2016. Uang diberikan atas dasar permintaan panitia Munaslub Partai Golkar 2016."

Di bagian bawah surat dibubuhkan meterai Rp 6.000 dengan tanda tangan atas nama Imam. Tertulis pula nomor telepon seluler 0818872035.
 
Panitia Pelaksana Munaslub Golkar Meutya Hafid mengatakan tidak tahu-menahu soal surat tersebut. Dalam aturan organizing committee pun tidak ada aturan tersebut. "Tidak ada pembayaran," ucapnya di Nusa Dua Convention Center, Bali, Selasa, 17 Mei 2016.

Meutya menuturkan tidak mengetahui siapakah pemilik nama Imam tersebut. "Panitia jumlahnya ratusan, saya tidak hafal," ujarnya.

Adapun Ade Komarudin belum bisa dikonfirmasi terkait beredarnya surat tersebut.

AHMAD FAIZ

Catatan koreksi:  Berita ini telah diralat pada Selasa 17 Mei 2016, pukul 15.05 karena terjadi kesalahan pada penyebutan status Netty Marliza yang sebelumnya disebut sebagai istri Setya Novanto. Mohon maaf atas kekeliruan ini.

pesan sang imam istiqlal

Zunus, NU Online | Kamis, 28 April 2016 11:54
Ciputat, NU Online
Tak banyak yang tahu bahwa Prof Dr KH. Ali Mustafa Yaq'ub belum lama ini berulang tahun. Pria yang baru saja menyelesaikan tugasnya sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal ini, terhitung tanggal 2 Maret ini genap berusia 64 tahun. Dengan kata lain, beliau telah melampaui usia Nabi. Hal yang tentu patut disyukuri tidak hanya oleh beliau dan para santrinya, tapi juga umat Islam Indonesia yang diberi anugerah oleh Allah salah satu putra terbaik bangsa ini. Namun, hari ini, Kamis (28/4) Allah Swt memanggilnya. Ini jelas kehilangan besar untuk bangsa dan umat Islam Indonesia.
Selama 64 tahun perjalanan hidup beliau, banyak yang sudah dicapai dan diraihnya. Pakar hadits terkemuka Indonesia ini telah banyak meninggalkan jejak dan tinta emas. Pak Kiai–begitu para santrinya biasa memanggil–merintis karier keulamaannya sejak menjadi pengasuh Pesantren al-Hamidiyyah Depok, lalu mendirikan Pesantren Luhur Ilmu Hadits Darussunnah di Ciputat, Tangerang Selatan.
Nama beliau mulai dikenal publik setelah menjadi kolumnis tetap di Harian Pelita dan Majalah Amanah. Melalui tulisannya yang tajam dan kritis dalam merespons permasalahan umat, terutama dengan sudut pandang hadits, nama Pak Kiai semakin menarik perhatian khalayak.
Keulamaan dan kecendekiaan beliau terus menyita perhatian publik ketika beliau ditunjuk sebagai salah satu anggota Komisi Fatwa MUI Pusat. Puncaknya saat beliau diangkat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal oleh Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni. Posisi beliau sebagai imam besar ini pulalah yang mengantarkan beliau untuk mendampingi Presiden Amerika Serikat Barack Obama saat berkunjung ke Masjid Istiqlal beberapa tahun lalu.
Ada yang unik dari sosok beliau. Tiap kali menempati amanah tertentu, beliau selalu disukai oleh media. Singkatnya, beliau dapat dikatakan sebagai media darling. Tak heran bila sosoknya selain pikiran-pikiran segarnya, selalu menghiasi media massa, baik cetak, elektronik, maupun media online. Beliau juga di antara sedikit ulama yang rutin diundang dalam acara Indonesia Lawyers Club di salah satu televisi nasional.
Ternyata tugas dan amanah yang beliau emban di ruang publik, tak serta-merta melupakan tugas beliau sebagai pengasuh International Institute for Hadith Sciences Darussunnah, yang mempunyai cabang di Malaysia. Terbukti mahasantri dari pesantren yang diasuhnya selalu langganan menjadi lulusan terbaik di kampus-kampus tempat mereka berkuliah, seperti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Capaian para santri beliau ini tak lepas dari “tangan dingin” yang selalu mengajarkan prinsip hidup yang jadi modal penting santri dalam hidup di masyarakat. Berikut lima hal yang selalu diajarkan beliau pada para santrinya:
1. Jangan Mati Sebelum Punya Buku
Ada pesan Pak Kiai yang selalu disampaikan dalam berbagai kesempatan di hadapan para santri. Pesan itu sangat melekat dan seperti afirmasi positif yang beliau tanamkan di benak para santri.
Wa la tamuttunna illa wa antum katibun. Jangan mati kecuali sudah bisa menulis buku. Pesan ini seperti sugesti yang terus beliau suntikkan pada para santri. Tak heran bila banyak santri beliau yang kemudian mempunyai karya berupa buku yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit terkemuka nasional dan bahkan internasional. Ini tak lain karena selain berpesan, beliau juga mencontohkan dengan terus berkarya. Tiap tahun selalu saja ada karya beliau yang diluncurkan ke publik.
2. Selalu Shalat Berjamaah
Pesan ini juga selalu beliau tekankan pada para santri. Bahkan, pada suatu kesempatan beliau secara berseloroh akan membakar kamar-kamar santri yang penghuninya tidak shalat berjamaah. Apa yang beliau sampaikan itu dengan mendasarkannya pada hadits Nabi yang akan membakar rumah-rumah sahabat yang tidak shalat berjamaah.
Beliau sangat memperhatikan hal ini. Bahkan, untuk penentuan lulusan terbaik di pesantren yang diasuhnya, beliau tidak hanya memperhatikan aspek akademiknya, tetapi juga memperhatikan aspek spiritualnya, termasuk shalat berjamaahnya.
3. Bermanfaat untuk Umat
Pak Kiai selalu menekan pada para santri agar jadi orang yang berilmu, tapi yang tidak di menara gading. Ilmunya yang hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri. Masyarakat sekitar tak ada yang merasakan kemanfaatan dari ilmunya. Pak Kiai selalu menasihati para santri agar tak meniru orang-orang yang mencari ilmu untuk mendapat gelar dan pekerjaan.
Karena, menurut beliau, ilmu sejatinya untuk dimanfaatkan, terutama untuk orang-orang di sekeliling. Pada banyak kesempatan di pengajian santri, beliau selalu mengutip hadis: “Jika ada satu orang saja yang mendapat hidayah gara-gara dirimu, itu lebih baik daripada onta yang paling mahal harganya,” (HR Bukhari).
4. Kemampuan Berbahasa Asing
Kemampuan berbahasa asing tak pelak menjadi prasyarat penting dalam memenangkan percaturan dalam berbagai bidang dewasa ini. Pesan tersebut seperti menjadi isyarat penting terkait peran umat Islam Indonesia di kancah internasional, mengingat minimnya ulama dan cendekiawan Muslim kita yang mampu berkiprah secara internasional, bukan karena tidak punya kualitas, tapi lebih karena terkendala persoalan bahasa. Pak Kiai yang sering berdakwah ke banyak negara, termasuk ke Amerika Serikat, menekankan pentingnya penguasaan bahasa asing ini.
5. Ikhlas dalam Mengabdi dan Berbuat
Soal keikhlasan dalam mengabdi dan berbuat, tidak hanya Pak Kiai pesankan melalui nasihat dan petuah, tapi beliau praktikkan langsung. Ini dibuktikkan dengan pesantrennya yang selama sepuluhan tahun lebih menggratiskan biaya pendidikan. Bahkan, beliau terkadang juga membiayai makan sehari-hari para santri. Beliau pun tak pernah membebani santri dengan banyak sumbangan untuk pembangunan dan pengembangan pesantren. (Moch Syarif Hidayatullah)
sumber : nu.or.id\ nu online

contoh tulisan feature news

TEMPO.CO, Jakarta - Ruang bola Panti Surya Hotel Aryaduta, Jakarta, masih riuh saat Suparno berjalan keluar dari ruangan. Pada usianya yang sudah 76 tahun, dia masih tampak bugar. Setelan batik dengan warna dominan merah yang ia kenakan tampak kontras dengan topi bisbol merek Fila yang membenamkan kepalanya. Tangannya mencekam tas plastik berisi setumpuk berkas.

"Tadi yang duduk di samping saya, yang pakai baju preman, sepertinya orang TNI. Mau saya suruh dia baca lengkap berkas saya ini," kata Suparno kepada Tempo di sela-sela Simposium Nasional bertajuk "Membedah Tragedi 1965, Pendekatan Kesejarahan", Senin, 18 April 2016.

Ia mengaku memiliki salinan dokumen berisi daftar korban operasi militer di Jawa Tengah tak lama setelah aksi Gerakan 30 September 1965. "Seingat saya jumlahnya (korban) mencapai 400-an ribu. Itu data yang tak boleh hilang. Semoga saya bawa," ujarnya.

Suparno hadir sebagai salah satu saksi sekaligus korban tragedi 1965. Dia bukan anggota atau simpatisan Partai Komunis Indonesia, melainkan seorang tamtama Batalyon 530 Brigade III Brawijaya, Surabaya. "Tanggal 30 September 1965, posisi batalyon saya di Monas. Perintah yang saya terima, adalah ikut serta ulang tahun ABRI," ujar Suparno.




Dia berkumpul bersama anggota batalyon di Markas Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), di seberang Monas, pada 1 Oktober 1965. "Di sana ada Panglima Kostrad Mayor Jenderal Soeharto," tuturnya.

Batalyon 530, kata Suparno, juga bertemu Menteri Dalam Negeri kala itu, Basuki Rahmat. "Kalian Batalyon 530 tak salah, kalian tak tahu apa-apa," kata Suparno menirukan ucapan Basuki.

Namun, sejak itu pengalaman buruknya dimulai. “Dua bulan setelahnya, ada surat cuti, dan ketika keluar Batalyon, saya sempat dibuntuti lima orang bersenapan laras panjang. Saya dikepung satu kompi,” ujarnya. Dia pun diringkus dan dibawa Detasemen Polisi Militer di Madiun. "Saya diperiksa Komandan Denpom."
 
Dalam interogasi, sang komandan mencecarnya soal peristiwa pada 30 September hingga 1 Oktober 50 tahun lalu itu. "Ada 25 pertanyaan. Saya dituding membunuh perwira saya, berniat menggantikan posisinya."

Nada Suparno meninggi. “Bayangkan, saya kopral dua, tamatan SD. Mana ada pikiran menggantikan perwira? Ibarat naik 11 anak tangga sekaligus," katanya.

Jawaban Suparno seperti membentur tembok. Ia kemudian dikurung di Rumah Tahanan Militer Madiun hingga dilepas tahun 1970. “Lima tahun saya ditahan, tidak pernah diadili. Saya salah apa? Saya ke Jakarta pada 30 September atas perintah Pangkostrad,” ujarnya. "Saya prajurit! Saya menjalankan apapun perintah atasan saya."

Bukan hanya terampas pekerjaan dan kebebasannya, Suparno sampai kehilangan istrinya. "Bahkan, istri pun saya berikan. Saya nikahkan dia dengan orang lain," katanya.

Cerita Suparno hanya satu di antara kisah korban yang hadir dalam Simposium Nasional Tragedi 1965. Acara yang diprakarsai Kementerian Politik, Hukum, dan Keamanan bersama sejumlah lembaga negara itu diharapkan bisa membuka pintu penyelesaian polemik dan pelanggaran HAM di masa lampau. Ini merupakan acara pertama mengenai tragedi 1965 yang mempertemukan korban dan pelaku, yang digagas oleh pemerintah Indonesia.

"Tak muluk, saya ingin hak saya dikembalikan," ujar Suparno. "Saat itu saya ingin berjuang di institusi militer, tapi saya dipecat tanpa hormat."

YOHANES PASKALIS

sumber : tempo.co

Pembelaan Mahasiswa terhadap kasus Ronny

Kembalikan Ronny Setiawan!
Salam Perjuangan, Hidup Mahasiswa!!!
Hari ini kita dikejutkan dengan kabar duka dari Jakarta. Keadilan di bumi pertiwi semakin sekarat. Perjuangan saudara-saudara kita dari UNJ nampaknya mengusik para penjahat. Suara dibungkam yang akhirnya berujung pada dikeluarkanya Ronny Setiawan (Ketua BEM UNJ) dari kampusnya.
Demi perjuangan Ronny Setiawan, ayo kita sampaikan kepada Rektor UNJ bahwa Ia telah mengambil langkah yang salah!
Sms ke Rektor UNJ +628161863927 dengan konten sebagai berikut:
Kami mahasiswa dari seluruh Indonesia meminta Bapak Prof. Dr. H. Djaali agar bisa memutuskan perkara Ronny Setiawan dan yang lain dengan rasional dan seadil-adilnya. Cabut SK pemberhentian Ronny Setiawan atau UNJ akan menjadi saksi tumpahnya mahasiswa dari Seluruh Indonesia untuk menuntut keadilan!
Kebenaran tidak akan pernah mati, dan orang yang memperjuangkannya akan tetap ada dan berlipat ganda. Kami tidak akan diam begitu saja.
Salam hormat kami, mahasiswa seluruh Indonesia

Surat Terbuka Fahri Hamzah, Wakil Ketua DRI RI, kepada Rektor UNJ

Surat Terbuka Fahri Hamzah, Wakil Ketua DPR RI, kepada Rektor UNJ
--------------------------------------

Saya baru menulis soal Jiwa Reformasi dan Demokrasi Kampus. Tiba2 ada kabar rektor yg pecat mahasiswa karena kritis. Satu kata: LAWAN! Dia kira dirinya siapa itu rektor, pakai UU ITE pecat mahasiswa.

Rektor UNJ yang terhormat, Anda harus bangga punya mahasiswa yang kritis, karena itu pertanda nurani bangsa kita masih hidup. Mungkin Pak Rektor tidak pernah jadi aktivis sehingga nurani tidak pernah diasah krisis. Atau Pak rektor tidak pernah keluar dari dalam laboratorium atau perpustakaan kepada dunia nyata yang dinamis.

Menyesallah Pak rektor karena Anda tidak pernah menjadi demonstran seperti mahasiswa yang Anda pecat. Menyesallah Pak rektor karena Anda bercokol lebih sebagai pejabat daripada penjaga kebebasan akademis.

Tahukah Anda arti kebebasan akademik wahai Pak rektor? Dunia akademik yang Anda pimpin harus dibebaskan dari tekanan apapun selain ilmu pengetahuan. Sehingga dalam kampus, tempat kebebasan berpikir kita semai, tidak boleh ada simbol kekuasaan

Dan kalau Rektor telah berubah menjadi simbol kekuasaan maka Rektor pun layak ditumbangkan!

Tapi Pak Rektor yang terhormat. Pagi ini, seperti pagi di setiap musim hujan ketika Jakarta dan sebagian kota terancam banjir, Anda telah membantu para aktivis mahasiswa bersemi bersama bunga, pertanda awal musim kita

Terima kasih Pak Rektor, Anda mengingatkan mereka ketika politik atau kekuasaan telah bersenyawa dengan para Ilmuan. Ketika kebenaran telah dirampas dari ilmu pengetahuan. Dan ketika semua menjadi kelam, karena kebenaran tenggelam bersama dominasi kekuasaan. Mungkin ini pertanda yang berulang dalam setiap perubahan besar. Bahwa kebenaran mesti diperjuangkan oleh keberanian!

Dan ketika semua telah menjadi mapan, kita hanya punya satu pilihan yaitu hidup bersama dengan orang-orang yang dalam hatinya penuh keberanian.

Dalam sejarah Indonesia, inilah yang muncul dalam setiap reformasi dan kemerdekaan. Dan keberanian itu telah muncul bersama pemuda dan mahasiswa.

Seperti hari ini dan hari-hari mendatang. Adalah hari-hari perjuangan!

Selamat berjuang teman2 mahasiswa. Tiada kata jera dalam perjuangan!

Allahuakbar, Merdeka!

----------------------

Kronologi lengkap, klik
https://www.change.org/p/rektor-unj-cabut-sk-do-rektor-unj-selamat-ronny-setiawan

Baca, kemudian dukung.

Ketika kamu baik dan mengganggu kepentingan petinggi, dengan mudah dirimu dibuat 'mati', dan hal ini akan terus terjadi selama kalian yang tau kebenaran hanya menjadi penonton tanpa ikut dalam pergerakan.

Sumber: Human Development

Ribut Perda Ramadhan, Anda Pernah Nyepi di Bali?

Ippho Santosa: Ribut Perda Ramadhan, Anda Pernah Nyepi di Bali?


Pernah Nyepi di Bali? Keluarga saya pernah. Seperti yang kita tahu, saat Nyepi, hampir semua kegiatan ditiadakan. Contoh, selama Nyepi keluarga pasien di berbagai rumah sakit tidak boleh keluar RS dengan alasan apapun. Stok makanan pun harus disiapkan, mengingat warung di sekitar RS juga tutup.


Selama Nyepi, bandara tutup 1 hari dan ratusan penerbangan ditiadakan. Perbankan tutup sampai 3 hari. Anda mungkin menyebutnya aneh dan rugi. Tapi sebagian pengamat menyebutnya unik dan hemat. Di atas segalanya, itulah tradisi dan keyakinan mereka. Hargai. Akan indah jadinya.


Anda masih protes? Tunggu dulu. Apakah Anda penduduk Bali? Apakah pendapat Anda dianggap penting bagi warga bali? Jika tidak, baiknya Anda diam saja. Hargai. Konon pemilik sebuah toko seluler di Kuta Bali pernah menghina tradisi ini. Yah wajar saja kalau warga merasa geram. Lalu, sebagian mengamuk dan merusak toko itu.


Setiap hari Minggu, di sejumlah kota di Papua, salah satunya Jayawijaya, warga dilarang jualan. Apapun agama mereka. Itu artinya 52 hari dalam setahun. Kalau Ramadhan, cuma 29 atau 30 hari. Saya pribadi pernah berkunjung ke tiga kota di Papua dan saya melihat ini diatur melalui Perda. Anda mau protes? Tunggu dulu. Apakah Anda penduduk Papua? Apakah pendapat Anda penting bagi warga Papua? Jika tidak, baiknya Anda diam saja. Hargai.


Setuju atau tidak, inilah Perda. Selama Ramadhan, rumah makan di beberapa kota, termasuk Serang, diminta untuk tidak beroperasi siang-siang, cukup sore dan malam saja. Di berbagai kota di Sumatera juga begitu, dengan atau tanpa Perda. Anda protes? Tunggu dulu. Apakah Anda penduduk Serang? Apakah pendapat Anda penting bagi warga Serang? Jika tidak, yah diam saja. Hargai.


Di Texas, warga biasa boleh menyimpan senjata api di mobil dan di rumah. Sementara di negara bagian lainnya di AS, tidak boleh. Ini 'Perda' mereka.


Perda berasal dari aspirasi rakyat setempat. Artinya kebiasaan ini sudah berlangsung puluhan tahun bahkan ratusan tahun. Perda walaupun usianya baru sekian tahun atau belasan tahun berusaha mengukuhkan aspirasi ini. Semoga kita bisa memahami dan berhenti menghakimi.


Boleh-boleh saja kita berempati dan berdonasi kepada si ibu-ibu itu. Apalagi setelah digiring dan didramatisir oleh media. Tapi pikirkan juga Perda yang telah ditetapkan di Serang. Coba bayangkan, Anda buka bengkel di Bali ketika Nyepi. Atau buka lapak ketika Hari Minggu di Kabupaten Jayawijaya. Ending-nya juga sama, Anda bakal diciduk.


Saya awalnya juga memprotes penggerebekan dan penertiban rumah makan di Serang itu. Kok disita? Warga Serang merespons, "Untung cuma disita. Kalau menurut Perda, yah denda puluhan juta. Dan Perda ini sudah berlangsung sejak 2010. Mestinya setiap warga sudah paham walaupun buta huruf." Fyi, kalau di Serang, mall juga mematuhi, bukan cuma pedagang kecil. Alhamdulillah, ada TK dan SD Khalifah di Serang, makanya sedikit-banyak saya tahu, hehehe.


1


Lantas bagaimana dengan mereka yang tidak berpuasa? Non-muslim, musafir, orang sakit, muslimah haid, hamil, dan menyusui. Tenang. Mereka telah mengantisipasi. Aman kok. Terbukti mereka tetap tinggal di sana selama bertahun-tahun. Nggak protes. Kok kita orang luar yang sok tahu dan mau menggurui?


Sebenarnya, dalam pemahaman Yahudi dan Kristen ada juga anjuran untuk menghormati tradisi puasa. Lihat Imamat 23: 29 dan ayat-ayat lainnya. Tentu saja ini tiada kaitan sama sekali dengan dinamika muslim sekarang. Yah sekedar komparasi saja.


Saya pribadi tak pernah menyuruh orang untuk menghargai puasa saya. Toh ini urusan saya dengan Tuhan saya. Tapi saat suatu kota memutuskan sebuah Perda terkait Ramadhan, tak ada salahnya saya dan kita semua turut mengapresiasi. Bagaimanapun itu Perda, itu aspirasi.


Ramadhan tahun lalu saya sempat menemani guru saya non muslim untuk sarapan. Bagi saya nggak masalah. Tak mungkin saya tergoda dengan sarapannya. Btw, ibu saya rutin puasa Senin-Kamis. Ketika saya makan siang, beliau sering menemani saya. Bagi beliau nggak masalah. Itulah 'Perda' di rumah kami. Anda protes? Hehe. Share ya.[]


sumber : from broadcash in whatsaap